REKOLEKSI TAHUN 2020 “CINTA KASIH”: Bulan September

Belarasa-yang-tak-terbagi = SALING MENGUDUSKAN

Pengantar

Panggilan kekudusan bagi kita di tengah dunia dewasa ini, secara jelas dituliskan dalam seruan apostolik Paus Fransiskus, Gaudete et Exsultate (Bersukacitalah dan Bergembiralah). Allah sendirilah yang menghendaki kita kudus. “Dia menghendaki kita kudus, dan tidak mengharapkan kita puas diri dalam sikap tawar hati, suam-suam kuku, tidak konsisten. Sesungguhnya panggilan kepada kekudusan tampak dalam berbagai cara sejak dari halaman-halaman pertama Kitab Suci. Tuhan menunjukkan hal itu kepada Abraham: “Hiduplah di hadapan-Ku dengan tidak bercela” [Kej 17:1]” (GE no. 1).

Allah dalam sejarah penciptaan, telah menciptakan manusia segambar dan secitra dengan-Nya. Maka Ia ingin setiap dari kita menyadari martabat luhur dan luar biasa ini. “Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau; dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau” (Yer 1:5). Allah telah dengan sempurna membentuk  kita  masing-masing  dan  menguduskan  kita  dari  sejak  dikandung  dan  dilahirkan. Maka sekarang tugas kita adalah memelihara dan mengembangkan rahmat yang luhur ini.

Kita, karena rahmat babtisan, diikutsertakan dalam tiga tugas utama Kristus yakni sebagai nabi, imam dan raja. Panggilan menguduskan, melekat pada tugas sebagai “imam”. Menjadi “imam” berarti memiliki tugas “menguduskan”, baik menguduskan diri kita sendiri maupun menguduskan orang lain dalam “kegembalaan” kita di tengah karya perutusan kita masing-masing. Terlebih karena profesi religius kita, panggilan menguduskan ini menjadi mutlak menjadi tugas utama kita.

Panggilan kekudusan dapat diwujudkan dalam peristiwa heroik, membela iman dengan menumpahkan darah seperti para martir kita, namun juga dapat terjadi dalam peristiwa sehari- hari  yakni  dalam  kesetiaan  kita  pada  kebenaran,  pada  hal-hal  kecil  dan  sederhana  serta ketekunan dan konsisten menghidupi panggilan religius kita. “Kita semua dipanggil untuk menjadi kudus dengan menghayati hidup kita dengan kasih dan masing-masing memberikan kesaksiannya sendiri dalam kegiatan setiap hari, di manapun kita berada. Apakah Anda seorang anggota hidup bakti? Jadilah kudus dengan menghayati persembahan diri Anda dengan sukacita” (GE no.14).

Dalam rekoleksi bulan ini, kita akan merenungkan dan mewujudkan CINTA KASIH dengan menyadari panggilan kita untuk saling menguduskan. Kita tidak dipanggil menjadi kudus bagi diri kita sendiri. Namun kita dipanggil untuk saling menguduskan satu sama lain, terutama dalam komunitas di mana kita tinggal dan di lingkungan kerja kita. Semoga panggilan menguduskan ini selalu kita sadari, sehingga persembahan hidup kita berkenan kepada Allah dan menghantar sesama pada keselamatan. Berkat Tuhan senantiasa menyertai kita.

Charitas = belarasa-yang-tak-terbagi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *