KONGREGASI SUSTER SANTO FRANSISKUS CHARITAS (FCh)

Rekoleksi Bulan Februari

Sessi I/ Malam

Bahan Renungan 

Rom 8: 14-17

“Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah. Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: “ya Abba, ya Bapa!” Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah.

Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.”

Renungan

Para saudari ytk, ukuran sukacita dalam diri kita sebagai anak-anak Allah adalah sukacita karena keintiman dan relasi kita yang dalam dengan Allah. Ia menjadi Bapa bagi kita dan kita adalah anakanak-Nya. Sukacita itu karena kita, manusia yang rapuh, lemah dan berdosa ini, dilayakkan menjadi anak-anak-Nya dan diperkenankan memanggil-Nya “ya Abba, ya Bapa!” Ia adalah Bapa yang dekat, Allah yang hidup dan penuh kasih, yang menyertai dan memelihara kita.

Kita telah diangkat menjadi anak-anak Allah dan kita merupakan anggota keluarga Allah sendiri. Ketika kita menjadi anak-anak Allah maka Allah adalah Bapa kita. Sebagai anak-anak Allah kita memiliki tugas yaitu melaksanakan kehendak Allah, terutama perintah supaya saling mengasihi. Dengan mengasihi sesama, kita tinggal di dalam kasih Yesus, Sang Putra, dan mengalami kepenuhan sukacita.  “Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh” (Yoh 15: 11). Dengan melaksanakan perintah-Nya, kita memiliki kepenuhan sukacita karena kesatuan kita dengan-Nya.

Kepenuhan sukacita yang berasal dari Allah, mengandaikan kerjasama dan keterbukaan hati terus-menerus dari pihak manusia. Sukacita yang berasal dari Allah ini dapat meredup atau bahkan hilang jika kita ketakutan tanpa iman, khawatir dan berpusat pada kekuatan diri sendiri, dan menyimpan dendam, iri hati, amarah, dan kebencian.

Ketika kita ketakutan tanpa iman, kita akan kehilangan sukacita. Kisah para murid yang menyangka Yesus “hantu” ketika Ia berjalan di atas air (Matius 14:22-33), mengambarkan bahwa ketakuatan tanpa iman, menghancurkan sukacita bahkan juga menumpulkan akal sehat. Ketika perahu para murid diombang-ambingkan angin sakal, Yesus datang berjalan di atas air. Namun mereka tidak lagi mengenali Yesus. Para murid mengira Yesus “hantu”. Dari kisah Injil ini kita belajar bahwa ketakutan tanpa iman mengerus sukacita bahkan kadang mematikan pengharapan karena akal budi tidak lagi dapat berpikir dengan lebih tenang dan jernih.

Kita juga dapat kehilangan sukacita dalam hidup karena kita mengalami kekhawatiran tanpa iman. Terkadang sesuatu yang tidak perlu dikhawatirkan kita jadikan bahan kekhawatiran, misalnya persoalan makanan, pekerjaan dan masa depan kita. Kadang juga kita mengalami kekhawatiran yang berlebihan dan kehilangan sukacita. Padahal Tuhan Yesus telah mengatakan kepada kita untuk memandang pemeliharaan Allah. “…Bapamu yang di surga tahu kamu memerlukan semuanya itu”   (Mat 6: 32). Setiap kita mungkin pernah mengalami kekhawatiran tanpa iman yang membuat kita kehilangan sukacita. Kita mungkin pernah berada dalam situasi yang begitu menjepit, di mana kita tidak bisa lagi dapat tersenyum. Terkadang pula apa yang kita harapkan tidak tercapai sehingga kita kehilangan sukacita. Di dalam semua hal ini, kita membutuhkan hikmat Allah dan kembali mencari Kerajaan-Nya dan kehendak-Nya (Mat 6: 33). 

Kita pun dapat kehilangan sukacita dalam hidup kita ketika kita menyimpan luka hati, dendam, iri hati, amarah, benci, sungut-sungut, dan sikap negatif lainnya. Luka luar atau fisik, bisa dengan mudah disembuhkan, namun luka di dalam hati sangat sulit disembuhkan. Hampir tidak ada obat untuk luka dalam hati kecuali kita menyerahkan semuanya kepada kuasa-Nya dan mengampuni mereka yang melukai kita. Dalam kisah Perjanjian Lama, Kain membunuh Habel karena penyakit hati yaitu iri hati, amarah, kebencian, dan sungut-sungut. Penyakit hati ini mendatangkan perbuatan kejahatan dan mengambil sukacita hidup kita. Dosa membuat kita gagal untuk menikmati sukacita yang Allah janjikan. 

Maka apa yang harus kita lakukan sebagai pewaris Kerajaan Allah dan supaya sukacita selalu tinggal di hati kita? Sukacita dalam Allah, adalah sukacita karna kita bisa memberi dan berbagi. Memberi dan berbagi apa saja yang kita bisa dan mampu lakukan demi kebaikan dan kebahagiaan orang lain (melalui sikap dan kata-kata yang menyenangkan, perhatian, waktu, doa, pelayanan, bantuan, dll). Saat kita melihat orang lain senang atau bahagia karena sikap, perbuatan atau pemberian kita, hati kita menjadi sungguh bersukacita, karena jiwa kita merasa sangat berarti dan diri kita menjadi berguna bagi orang lain. Dan juga kita bersukacita karena kita bisa berbuat suatu kebaikan yang menyenangkan hati Allah.

Sukacita dalam Allah, menjadikan kita malu, jika hidup kita hanya mampu menerima tanpa memberi dan berbagi, hanya bisa berkeluh kesah tanpa berbuat yang menyenangkan orang lain, hanya mampu berpusat pada diri sendiri dan menyakiti atau mengecewakan orang lain. Sukacita dalam Allah, menjadikan kita manusia yang berhati indah, karena selalu mau berbagi kasih dan kebaikan dengan tetap bersukacita.

Dalam menjalani kehidupan ini, sebagai anak-anak Allah kita memiliki tugas melaksanakan kehendak Bapa. Melaksanakan kehendak Bapa dengan berbuat baik dan mengajarkan kebenaranNya kepada semua orang yang kita jumpai. Meskipun dalam realita sehari-hari, kita tidak terlepas dari beragam tantangan, kesulitan dan rintangan, cobaan serta godaan yang selalu menghampiri perjalanan hidup kita. Maka kesadaran kita sebagai anak-anak Allah, memampukan kita berani berkorban dan berkomitmen dalam berbuat baik dan mewartakan kebenaran serta sukacita-Nya. ”Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya. Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh” (Yoh 15:10-11).

PR Perwujudan Konkret

 Sebagai orang beriman, kita harus mengusahakan hidup dalam kebenaran dan kekudusan. Membiarkan diri kita dipimpin oleh Roh Allah.

Refleksi

  1. Apakah kita yang sudah dipersatukan dengan Allah dan diangkat menjadi anak-anak-Nya, berani berkorban dan konsisten melaksanakan kehendak-Nya? 
  2. Apakah kita memiliki keterbukaan hati dan komitmen yang teguh untuk hidup seturut bimbingan Roh Kudus?  
  3. Bila kita sadar akan jati diri kita sebagai anak-anak Allah, apakah kita pun berani berkorban dan berkomitmen menjadi “nabi” yang mewartakan kebenaran dan membawa terang bagi sesama menuju kepada Bapa?

Charitas = belarasa-yang-tak-terbagi

Laman: 1 2 3

Satu tanggapan untuk “Rekoleksi Bulan Februari”

  1. Avatar Carolisa FCh
    Carolisa FCh

    Selamat bermenung. Semoga martabat kita sebagai anak Allah, mengingatkan akan panggilan kekudusan kita terutama sebagai suster FCh. Salam belarasa-yang-tak-terbagi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *