Biara Charitas Theresia Saelmaekers

Kompleks RS Charitas Jl. Jend. Sudirman No.1054

Biara ‘’Theresia Saelmaekers‘’ ada di kompleks biara pusat. Pada rapat DPU, tanggal 23 Januari 2005, diputuskan membangun biara baru lagi di lokasi biara pusat. Lokasi yang di pakai adalah yang semula berdiri bangunan kamar jahit dan kamar tamu biara pusat. Biara ini dibangun sekaligus berfungsi sebagai rumah transit bagi para suster dari luar Palembang. Juga bagi tamu biarawati dari Kongregasi lain.

Anggota Komunitas Theresia Saelmaekers Tahun 2020

            Tanggal 27 Mei 2006, biara baru  ‘’Theresia Saelmaekers’’  diresmikan oleh Mgr. Aloysius Sudarso SCJ, sekaligus meresmikan Pondok Rohani ‘’Theresia Saelmaekers’’. Tugas para suster di komunitas ini bervariasi, ada yang bekerja di RS Charitas sebagai tenaga medis maupun non medis. Para suster juga terlibat dalam kegiatan Pastoral Parokial.

Bapa Santo Fransiskus Assisi sebagai Pelindung Komunitas

Keutamaan dan nilai-nilai hidup Muder Theresia Saelmaekers terwujud dalam tindakan nyata selama hidupnya. Beliau beriman kuat, berjiwa religius, teguh dalam harapan, tekun dalam doa, sederhana, ulet, tidak mudah putus asa, tidak takut menanggung resiko, bersikap idealis, berani mengambil keputusan dengan segala konsekuensinya, pekerja keras, rendah hati dan masih banyak lagi yang bisa di teladani dalam contoh-contoh hidupnya. Sejarah hidupnya menyingkapkan siapa dirinya berhadapan dengan fakta yang di hadapinya. Beberapa sikap yang beliau pilih nyata dalam karyanya a.l :

  1. Tergantung dan berharap pada Allah

Beliau selalu memohon terang Roh Kudus dan bimbingan Allah untuk apa yang dilakukan. Cinta kasih Allah mendorong beliau maju terus. Jika religius dan semangat berdoa mewarnai semangat pelayanannya. Cinta kasih buah ketekunan doa,  memberi kekuatan kepada beliau untuk hadir bagi orang lain terutama yang miskin dan yang membutuhkan pertolongannya.

 2. Idealis dan berani                                                      

Sikap idealis dan keberaniannya terbukti dalam semangatnya untuk mendirikan rumah-rumah biara di beberapa tempat, walau harapan untuk berkembang tidak seberapa menggembirakan. Beliau tidak mengenal lelah untuk melayani sesama di beberapa tempat yang meminta pelayanan. Keberaniannya juga tampak ketika beliau harus berhadapan dengan tuan-tuan Regen yang lebih mementingkan urusan bisnis dari pada pelayanan untuk orang-orang miskin dan tersingkir. Beliau harus berjuang mewartakan kasih Allah dalam meningkatkan kesejahteraan bagi orang-orang miskin, terlantar, dan menderita.

3. Cepat bertindak, rela menderita dan tidak takut menanggung Resiko

Keberaniannya membuat tuan-tuan Regen marah. Dalam situasi ini, Muder Theresia Saelmaekers, mengambil langkah untuk pergi dari Oosterhout (biara pertama). Bersama dua suster dan seorang novis, beliau berangkat ke Steenbergen untuk membuka rumah baru dengan peralatan seadanya yang sempat dibawa. Namun mereka  tetap  menerima keadaan itu dengan tetap berempati pada orang-orang miskin dengan penuh kesetiaan.

4. Terbuka dan setia pada persaudaraan

Muder Theresia Saelmaekers selalu membicarakan rencana-rencana bagi kongregasinya dan mempersiapkan segala sesuatau bersama dengan para susternya. Dan mereka berjanji setia satu dengan yang lain. Kesetiaan pada persaudaraan bukan berarti menghindari konflik, tetapi ‘duduk bersama’ dalam memecahkan persoalan.

5. Besemangat Radikal dan tidak takut perpecahan

Keterbukaan hatinya akan panggilan Allah dimanapun membuat hatinya lepas bebas  untuk menjalankan perutusannya. Semangat radikal tampak ketika beliau mau dan merelakan melepas biara-biara yang telah didirikannya.. sikap mapan dan mandeg tidak ada dalam sejarah hidupnya. Beliau selau siap diutus oleh Allah sesuai dengan keadaan yang memintanya untuk bertindak. Komunitas-komunitas yang dirintisnya akhirnya harus mengalami perpecahan. Namun beliau tetap setia pada komitmen awal dan cita-citanya untuk menolong orang sakit terutama yang miskin dan tersingkir.

6. Rendah hati dan ‘’sumeleh’’

Pada usia ke-70 tahun, beliau merasakan dirinya tidak lagi mampu menjadi Pemimpin Umum Kongregasi Charitas. Maka jabatan pun diganti kepada penggantinya. Ia mengikuti teladan pelindungnya yaitu Theresia Agung yang menempatkan diri dibawah ketaatan sebagai religius biasa. Dalam masa tuanya beliau tetap aktif berkarya dan mempersembahkan masa-masa tanya dalam doa. Semoga teladan hidup Muder Theresia Saelmaekers meresap dalam jiwa kita sekalian. Dengan demikian, kehadiran kita menjadi kemuliaan Allah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *