BIARA CHARITAS RIVOTORTO

Jl. Wahid Ali No. 90 – Sei Buah Palembang 30118

Komunitas Sungai Buah berada di Jl. Wahid No.90 Palembang terletak kurang lebih 6 (enam) kilometer dari FCh pusat. Pada tahun 1965, para suster FCh mendapat tawaran dari organisasi Wanita Katolik untuk mengambil alih  BP/BKIA, yang dikelola oleh mereka.

Anngota Komunitas yakni Sr. M. Adelia FCh (Pelayan Persaudaraan), Sr. M. Dien Kristifera FCh, Sr. M. Chrispine FCh dan Sr. M. Arnolda FCh).

         Sebagai jawaban atas tawaran ibu-ibu WK tersebut, Pemimpin Regio Charitas Indonesia mengutus Sr. Benigna untuk memberikan pelayanan kesehatan dengan dibantu perawat dan bidan dari Rumah Sakit Charitas. Sebelum memiliki fasilitas pelayanan yang permanen, Sr. Benigna dan teman-temanya melaju setiap hari Senin dan Kamis dari RS Charitas Pusat. Pelayanan Sr. Benigna dan teman-temanya di Sungai Buah disambut baik oleh masyarakat. Hal ini mendorong untuk membangun fasilitas pelayanan yang lebih permanen. Maka tahun 1974 dibangunlah Balai Pengobatan yang permanen.

       Karena pelayanan yang baik dan kehadiran Sr. Benigna serta teman-temanya mengena hati masyarakat, masyarakat mengharapkan kehadiran para suster FCh tidak hanya dua kali dalam seminggu. Kerinduan masyarakat akhirnya dipenuhi dengan dibukanya cabang atau komunitas suster-suster Charitas di Sei Buah pada tanggal 24 Februari 1975. Karena tuntutan karya, BP dan RB mesti diperluas, tahun 1997 dibangun biara baru dan asrama. Pada tanggal 2 Mei 1998, biara baru dan asrama diresmikan. Tanggal 8 September 2000, Balai Pengobatan dan Rumah Bersalin di renovasi lagi karena harus ada pemisahan pasien.

                Kehadiran pelayanan kesehatan di Sungai Buah ini menjadi perpanjangan jangkauan pelayanan kepada masyarakat yang kurang mampu dan tidak mempunyai kendaraan langsung ke RS RK Charitas. Daerah-daerah itu misalnya daerah Sungai Lais dan Sungai Batang. Dengan demikian, pewartaan kabar gembira melalui pelayanan kesehatan tetap dapat dialami oleh sebagian besar masyarakat di sekitar Palembang. 

          ‘’St. Fransiskus berkumpul dengan saudara-saudara lainnya disuatu tempat yang bernama Rivo Torto didekat kota Assisi. Ditempat itu ada sebuah gubuk yang telah ditinggalkan. Nah, dibawah atapnya hiduplah mereka yang sangat meremehkan rumah-rumah bagus lagi besar, dan berlindunglah mereka tehadap curahan hujan. Sebab seturut kata sang Santo, orang lebih cepat dari gubuk naik ke surga dari pada dari istana. Ditempat itu bapak tersuci serta semua putera dan saudaranya hidup bersama-sama dengan banyak pekerjaan dan kekurangan akan segala-galanya ; sering sekali tiada roti untuk dimakan, maka mereka harus puas dengan umbi-umbian, yang mereka minta – minta disana-sini didataran Assisi dalam kesukaran mereka. Tempat itu sangat sesak, sehingga mereka hampir tidak dapat duduk atau beristirahat. Namun tiada gerutu dan tiada keluh-kesah terdengar atas kesemuanya itu; tetapi dengan hati tenang jiwa mereka penuh suka-cita memelihara kesabaran. Setiap hari malah senantiasa, St. Fransiskus dan orang-orangnya mengadakan pemeriksaan batin secara saksama ; dan ia tidak membiarkan sesuatupun yang berbahaya bercokol di dalam hati mereka. Dengan ketertiban yang keras ia menjaga dirinya setiap saat…’’(I Cel. 42)”.

Ruang rekreasi para suster

   Kisah Rivo Torto merupakan kisah perihal pemeliharaan kemiskinan. Dalam keadaan  sangat terbatas, Fransiskus dan para pengikutnya tetap bersyukur. Melalui keadaan yang serba kurang, ia dan para saudara yang lain, belajar kesabaran dan bersyukur. Ia menggunakan keterbatasan sebagai sarana untuk mencapai Allah yang tak terbatas. Menurut Fransiskus, ‘’orang lebih cepat dari gubuk naik ke surga dari pada dari istana’’. Mengapa? Sebab dalam kemiskinan sejati, kita sungguh dekat dengan Allah. Kita tergantung dan terus bergantung pada kemahakuasaan Allah. Dan dengan rendah hati selalu meletakan hidup kita pada rencana dan kehendak-Nya. Dengan demikian hidup kita mengalami suka cita dan kebebasan sabagai anak-anak Allah.

          Komunitas ‘’Rivo Torto’’ Charitas di Sungai Buah dapat dikatakan pelayanan yang sangat terbatas. Walaupun demikian, semoga yang terbatas dan kecil itu membuahkan berkat yang besar untuk banyak orang. Dari tempat yang kecil dan sederhana, tumbuh dan lahir semangat yang besar untuk membawa berkar Allah bagi dunia. Semoga demikian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *