BIARA CHARITAS STA. MONICA

Jln. Kol. H. Burlian No.228 KM 7 Palembang

Biara Charitas ‘’Sta. Monika’’ dibangun khusus suster-suster lansia. Alasanyang mendesak biara ini dibangun adalah karena komunitas St. Anna, yangjuga menjadi komunitas para suster lansia, dirasa kurang memadai dan sangat sempit.

       Pada awalnya ada diskusi untuk memilih tempat yang paling pas untuk biara ini. Saat muncul dua tempat sebagai pilihan yakni di Kenten atau di KM. 7. Setelah mempertimbangkan beberapa alasan maka diputuskan dibangun di KM. 7. Alasan di bangun di kompleks Charitas KM. 7 antara lain : 1). Lebih strategis sebab dekat dengan RS Myria, Rumah Retret Girinugraha dan komunitas para suster FCh, 2). Para suster yang akan tinggal di komunitas ini akan sering dikunjungi sebab lokasi pembinaan para suster FCh juga di kompleks ini, dengan demikian banyak kesempatan bagi para suster yang lain untuk mengunjungi, menyapa dan menemani para suster lansia tersebut.

Gambar saat peresmian Biara Sta. Monica (2008)

          Biara ini diresmikan oleh Mgr. Aloysius Sudarso SCJ, didampingi P. Nico SCJ dan P. Sapto SCJ pada tanggal 11 Agustus 2008. Peresmian biara ini menjadi istimewa karena dihadiri oleh Pemimpin Umum dan Para Dewan Charitas Roosendaal. Beliau yang hadir adalah : Ny. G. M. C. van der Kar-Vonk (Ny. Ineke) sebagai Pemimpin Umum dan anggotanya ; Ny. H. J. M. Van Geel- Kemperman, Tn. W.L.Joosten dan Tn. B. A. Leffers.

                Suster yang diutus menempati biara baru Sta. Monika setelah peresmian ada 15 suster yang berprofesi kekal 6 suster lansia dan 1 suster medior III yang sedang sakit, dan 2 suster yunior. Sebagai Pelayan Persaudaraan di Biara Charitas Sta. Monika dipegang oleh Sr. M. Tatiana FCh, dan sebagai Dewan  pelayan persaudaraan Sr. M. Yohana FCh dan Sr. M. Rosa FCh. Para suster muda selain mendampingi suster-suster lansia, juga ada yang bertugas di RS. Myria sebagai tenaga medis maupun non medis.

               Sta. Monika dilahirkan pada tahun 331 di Tagaste, Algeria, Afrika Utara dari keluarga Kristen yang taat. Leluhurnya bukan penduduk asli Afrika, tetapi perantauan dari Fenesia. Sta. Monika dinikahkan dengan Patrisius, seorang pegawai tinggi pemerintahan kota di Thagaste (Afrika Utara)mereka dikaruniai tiga orang anak : Agustinus, Navigius dan Perpetua yang kelak memimpin Biara.

                Acapkali orang yang disayangi Tuhan juga menyandang beban berat. Begitu halnya dengan Sta. Monika. Ia dibesarkan dalam keluarga yang kehidupan imannya kuat. Namun hatinya amat menderita karena ulah suami dan salah satu dari ketiga anaknya. Suaminya mencemooh dan menertawakan usaha keras istrinya mendidik putranya, yaitu Agustinus, supaya menjadi pemuda Kristen yang setia. Patrisius tetap kafir dan mengikuti kaum bidaah. Agustinus berkawan dengan orang-orang bejat dan hidup berfoya-foya. Segala nasehat ibunya tidak digubris. Sta. Monika tidak pernah putus asa mendampingi anaknya. Ia menggunakan segala kesempatan untuk berdoa: ‘’Semoga Yang Mahabaik membimbing suami dan puteraku Agustinus kejalan yang benar!’’ Bertahun-tahun lamanya tidak ada tanda apapun bahwa doanya dikabulkan.

Kebersamaan saat makan siang, dengan para suster di Komunitas Sta. Monica

                Cara hidup Agustinus makin menggelisahkanibunya. Sta. Monika dalam kebingungannya meminta nasehat seorang uskup. ‘’Percayalah, ibu telah banyak memeras air mata; tak mungkin Tuhan membiarkan anak itu celaka,’’ demikian hiburan dan nasehat uskup itu kepada Sta. Monika, lebih-lebih ketika anaknya berusia 29 tahun meninggalkan ibunya berlayar ke Italia. Ia terus menyertai anaknya baik di Roma maupun di Milano. Di Milano inilah Sta. Monika berkenalan baik dengan Uskup St. Ambrosius.

              Usaha Sta. Monika tidak sia-sia. Akhirnya Agustinus di permandikan oleh Ambrosius. Saat itulah bagi Sta. Monika merupakan puncak dari kebahagiaan hidupnya. Hal ituI terlukis dari kesaksian Agustinus sendiri yang menuliskan kisah mereka ketika ingin berlayar pulang ke Afrika, kami berdua terlibat dalam pembicaraan yang sangat menarik, sambil melupakan liku-liku hidup masa lampau dan menyongsong hari depan. Kami bertanya-tanya, seperti apakah kehidupan para suci di surga. Dan akhirnya dunia dan segala isinya ini tidak lagi menarik bagi kami. Ibu berkata “Anakku, bagi ibu sudah tiada sesuatu pun di dunia ini yang memikat”. Ibu tidak tahu untuk apa mesti hidup lebih lama. Sebab segala harapan ibu di dunia ini sudah terkabul‘’. Lima hari kemudian Sta. Monika jatuh sakit, dan pada hari kesembilan dengan tersenyum ia menghadap Bapa.’’

              Beberapa saat sebelum meninggal, Patrisius bertobat dan minta di baptis. Embun sejuk dari Tuhan menyelimuti hati Sta. Monika dengan kebahagiaan. Sta. Monika (331-387), Ibu St. Agustinus, meninggal di di (Italia). Ia dihormati sebagai pelindung ibu rumah tangga. Pestanya dirayakan setiap tanggal 27 Agustus.

Anggota Komunitas Sta. Monica (merupakan komunitas lansia) Sr. M. Thedorine FCh sebagai Pelayan Persaudaraan

Pilihan nama ‘’Sta. Monika bagi biara para suster lansia di KM 7 ini memiliki alasan yang mendasar yakni bahwa St. Monika adalah seorang pendoa. Dengan nama ini diharapkan suster-suster yang purna karya juga menjadi pendoa dan melayani karya kerasulan dalam doa-doa dalam keseluruhan hari.

Gambar saat makan siang bersama Ibu Monigue

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *