Perayaan Ekaristi Profesi Pertama dipimpin oleh Romo Yohanes Kristianto, Mgr. Yohanes Liesen dan Romo Andreas Suparman SCJ. Perayaan profesi pertama untuk tahun 2025 ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang biasanya dilaksanakan setiap tanggal 8 September. Yang membedakan adalah Kongregasi Suster Santo Fransiskus Charitas tahun ini mendapatkan berkat kunjungan tamu agung Mgr. Yohanes Liesen, Uskup Breda Belanda dan ditemani oleh Bapak Vincent. Memang Dewan Pimpinan Umum Kongregasi sudah beberapa waktu lalu merencanakan pelaksanaan profesi pertama tahun ini tanggal 24 September 2025, bertepatan dengan kehadiran Mgr Liesen di Indonesia, khususnya di Palembang. Maka Mgr. Liesen menjadi konselebran dalam perayaan ekaristi profesi pertama, membuka dan menutup perayaan ekaristi dengan berkat.
Dalam khotbahnya Romo Kristianto, menyampaikan sesuatu hal yang berkembang sangat cepat tak terbendung saat ini mengenai media social, katanya: “Sekarang ini jaman AI, maka saya bertanya kepada mbak AI, bagaimana kualitas pelayanan suster Charitas? Lalu dijawab oleh mbak AI: kualitas pelayanan suster Charitas sangat profesional, komprehensif dan berkelanjutan, para suster memiliki kedekatan dengan Tuhan, peduli terhadap orang miskin, terbuka dan memiliki kemampuan beradaptasi dan lain-lain. Kemudian saya bertanya lagi, ada nggak ya mbak AI kekurangan para suster Charitas, lalu dijawab oleh mbak AI: untuk pertanyaan ini tidak ada informasi. Sambil tersenyum Romo Kris menegaskan, betapa luar biasa perkembangan dunia modern, sehingga dalam waktu singkat bisa mendapat informasi.”
Romo Kris melanjutkan khotbahnya: saya cukupkan ya perbincangan dengan mbak AI. Pada kesempatan yang istimewa ini marilah kita mendukung tujuh saudari kita Sr. M. Albela FCh, Sr. M. Alfolin FCh, Sr. M. Ariela FCh, Sr. M. Gery FCh, Sr. M. Ferania FCh, Sr. M. Alfra FCh, dan Sr. Yulista FCh yang akan mengucapkan profesi pertama. Ini adalah moment yang sangat penting, sangat berharga bagi mereka. Mengapa mereka ini mau mengucapkan profesi? Karena mereka telah melalui proses yang panjang, mungkin dalam berproses menemui suka, duka, kekuatiran dan lain-lain, namun itu semua menghantarkan mereka untuk maju dengan mantap. Ada permohonan, tentu saja setelah ada kemantapan yang terletak pada jawaban, “ya saya bersedia” ungkapan kesediaan itu untuk apa? Yakni untuk menjadi murid Kristus, hidup dalam ketaatan dalam kemiskinan dan kemurnian tidak menikah.
Apa konsekuensi setelah bersedia? Yaitu dengan kesadaran penuh mau mengasihi Tuhan, Allah, dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa dan dengan segenap akal budi, siap membaktikan diri menjadi murid Kristus. Rumusan tiga profesi: ketaatan, kemiskinan dan kemurnian dari dulu sampai sekarang sama, tetapi bukan sekedar meniru atau kopi paste meski waktunya berbeda. Jaman dulu menjadi suster karena kehadiran para suster secara langsung, sedangkan sekarang menjadi suster karena info dari medsos.
Ada perubahan cara pandang dari zaman dulu hingga sekarang dan juga cara penghayatannya, tetapi apapun yang terjadi, apapun situasinya landasan atau dasar utama tetaplah kasih Allah. Karena kasih Allah tidak berubah. Kasih memiliki nilai luhur dan kekal. Karena itu profesi membutuhkan komitmen untuk memberikan diri secara penuh kepada Kristus. Saat ini banyak godaan yang diwarnai nafsu, harta, kuasa dan lain-lain, namun jika ketaatan, kemiskinan dan kemurnian dihayati dengan ketulusan dan dilandasi dengan Kasih Allah, maka dapat dijalani dengan setia. Oleh karena itu mari kita dukung kesediaan mereka, agar tetap berada dalam kasih Allah, sehingga melahirkan bela rasa, kedamaian, dan sukacita, tandas Romo Kris mengakhiri khotbahnya.
Sebelum berkat penutup ada perwakilan sambutan dari pestawati, orangtua pestawati untuk mengucapkan terima kasih dan syukur atas berkat Tuhan yang melimpah dan sambutan dari Sr. M. Patricia FCh Pemimpin Umum Kongregasi Suster Santo Fransiskus Charitas. Sr. M. Patricia, FCh, menyapa semua yang hadir secara langsung maupun hadir lewat live streaming. Ungkapnya: “Profesi pertama adalah awal perjalanan panjang sekaligus tantangan dan peluang. Yang penting bukan hanya ucap janji. Mengucapkan profesi bukan soal apa dan siapa, tetapi bagaimana saya berproses menghidupi dan menghayati profesi itu dalam realitas. Hidup kita bersama adalah tanda kasih Allah. Kalung salib sederhana merupakan lambang kesederhanaan. Jalan kita bukan jalan untuk mencari kesenangan, kenyamanan, kecocokan, tetapi menjadi saksi pewarta dan pelaku bela rasa yang tak terbagi. Semoga kalian yang baru saja mengucapkan profesi, semakin hari semakin jatuh cinta pada Yesus.
Hari ini kita juga bersyukur karena kedatangan tamu spesial yaitu Mgr. Liesen dan Pak Vincent yang melakukan kunjungan istimewa 4 kongregasi serumpun Theresia Saelmaekers yaitu FCh, SFS, KSFL dan FSE. Semoga kehadiran Mgr. Liesen dan Pak Vincent menjadi berkat buat kita semua, tandas Sr. Patrcia mengakhiri sambutannya sambil tersenyum.
Usai berkat penutup semua yang mengikuti perayaan ekaristi secara langsung di rumah novisiat diajak dan diarahkan untuk memberi salam kepada pestawati melalui samping kapel sambil berjalan menuju ke Rumah Retret Giri Nugraha untuk melanjutkan ramah tamah bersama. Hal ini juga berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya ramah tamah biasanya dilaksanakan di rumah novisiat, tetapi karena menyambut tamu agung Mgr. Liesen dan Pak Vincent dari Belanda, maka ramah tamah diadakan di Rumah Retret Giri Nugraha, sehingga ada suasana yang berbeda. Semua mengalami kegembiraan dan sukacita karena kebersamaan dan persaudaraan.
Penulis: Sr.M.Paula FCh











Tinggalkan Balasan