Page 5 - Suara Charitas Apr-Jun 2024
P. 5
Salib adalah kepenuhan cinta Allah yang Anugerah Tuhan itu cuma-cuma dan
tanpa syarat. Bersama Dia kita dapat hidup tidak bersyarat, namun tidak dapat terwujud
dan mengatasi kerapuhan sekalipun tanpa jika tidak diterima. Kita tidak lebih kuat
dihancurkan oleh kerapuhan-kelemahan diri dari orang lain dalam menghadapi kesulitan
kita sendiri. “Kristus telah mengasihi aku dan hidup. Kita tidak perlu takut merasa lemah.
menyerahkan nyawa-Nya untuk aku” (Gal Kita masih harus membiarkan Tuhan berkata
2,20). Kasih inilah yang menjadikan kita kuat kepada kita: <RahmatKu cukup bagimu>.
dan berani, yang menanamkan keberanian Yesus datang bukan untuk menjelaskan
dan membuat segalanya berani. arti penderitaan, kerapuhan dan penderitaan
manusia dalam segala bentuknya, melainkan
Belajar dari Yesus: Hidup dalam untuk menjadi dekat dengan mereka,
Kerapuhan
sehingga menyatakan kedekatan dan
Yesus, dari awal hingga akhir hidupNya, kepedulian Tuhan terhadap manusia dan
“hidup dalam kerapuhan.” Dia dihadapkan meminta kita untuk mengikutinya: “Lakukan
pada kemungkinan godaan, meskipun kita ini untuk mengenang Aku”. Iman adalah
tidak pernah melihatNya jatuh ke dalam kepercayaan yang bebas dan tanpa syarat.
kejahatan moral; berbagi batas-batas budaya “Roti yang dipecahkan” dalam
pada masanya, kebiasaan, adat istiadat, Ekaristi sebagai kenangan akan sengsara,
hukum; dalam hubungan dengan orang- suatu cara kehadiran Tuhan yang Bangkit di
orang, Yesus memperlihatkan diriNya antara kita. Ikon “roti yang dipecah-pecah”
dengan transparan, tanpa rasa takut atau merupakan simbol kerendahan hati Allah
diam, berani menunjukkan kelemahan dan dalam kerapuhan dan kekuatan pemberian
kemiskinanNya: “beri aku minum”, Yesus diri secara total demi keselamatan dunia,
bertanya pada perempuan Samaria. Di menyertai kehidupan Gereja sehari-hari.
dalam diri Yesus, ada keterbukaan terhadap Roti itu, kalau tidak rapuh (fractio panis),
hubungan yang autentik dengan semua, tidak bisa dimakan. “Kelemahan Tuhan”
Yesus dapat mendamaikan diri mereka tersebut mengajak manusia untuk keluar dari
dengan kerapuhan mereka sendiri. egosentrisme, dari dari ilusi kemahakuasaan
“Respon” Yesus terhadap kerapuhan dan untuk benar-benar terbuka terhadap
(penderitaan, rasa sakit, terhadap realita keragaman-kerapuhan dan
penderitaan manusia) adalah respon praktis: pengampunan.
Ia menyentuh, menyembuhkan, meletakkan Dalam kerapuhan, kita diharapkan
tangan-Nya pada orang-orang sakit. Yesus dapat menemukan makna hidup dan
makan bersama pemungut cukai dan orang menjadi saksi bagi dunia, memiliki harapan
berdosa; Ia menyerukan kebebasan tanpa yang mengalir dari Kristus; yang sungguh
paksaan; Ia tidak memaksakan situasi, Allah dan sungguh Manusia–Tuhan, yang
dengan sabar menerima kekurangan setiap Tersalib dan Bangkit. Manusia tidak pernah
pribadi (lihat perumpamaan tentang gandum dilahirkan atau tumbuh secara sempurna,
dan lalang). Bagaimana responku terhadap ia harus “terus menerus dilahirkan”, “terus
kerapuhan diri sendiri dan sesamaku? “Lari menerus melahirkan dirinya sendiri”. Dalam
dan menjauh” atau menghadapi, mengolah kasih dan pengampunan, kita “dilahirkan
dan menerimanya? kembali”, kita mengalami kasih Allah dalam
keragaman dan kerapuhan. Mari “berjalan
“Kasih karuniaKu cukup bagimu; bersama” saling menghargai dan menerima
karena kekuatan nyata sepenuhnya setiap pribadi sebagai anugerah!**
dalam kelemahan”
(2 Kor 12:9)
Suara Charitas 5

