Page 4 - Suara Charitas Jul-Sep 2024
P. 4
SALAM
REDAKSI
Persaudaraan Ekaristi: Saling
Mencintai dan Memberikan Diri
Sr. M. Patricia FCh
diriNya sehabis-habisnya karena mencintai
manusia. Allah memilih “gerak turun”
untuk menyelamatkan manusia. “Gerak
turun” diartikan sebagai kerendahan hati
dan pengosongan diri Allah yang hendaknya
menjadi “pola hidup persaudaraan Charitas”
“...Dalam Ekaristi kita diingatkan akan Kristus
yang mengorbankan hidupNya. Pemberian yaitu persaudaraan ekaristi. Kita dapat
hidup inilah yang kita lakukan, karena kita mengembangkan persaudaraan ekaristi
hendak mengikuti Yesus Kristus, dan memohon dengan sikap saling mendengarkan, saling
kekuatan kebangkitan dari Allah. Sebagai menghargai pendapat sesama saudari dan
persaudaraan sedapat mungkin kita merayakan melatih diri untuk “mengosongkan diri”
Ekaristi setiap hari.” sehingga Kristus dapat mengisi pikiran
(Kons 708) dan hati kita dengan kebaikanNya. Ketika
diri kita dipenuhi dengan kepahitan, benci,
Dengan merayakan Ekaristi kita dendam, perasaan tidak suka dan iri hati,
belajar mencintai dan melayani, kita bukankah kita akan sulit untuk merendahkan
masuk ke dalam Misteri Paskah: kasih yang diri? Karena ada “blok”-“belenggu” yang
cuma-cuma. Dalam Ekaristi hadirlah Tuhan membuat emosi negatif dan pikiran negatif
yang bangkit, yang menjadi keselamatan kita, menguasai dan mendominasi sehingga
realitas yang hakiki dan definitif. Ekaristi memudarkan persaudaraan ekaristi.
adalah suatu bentuk penampakan Paskah Dalam Ekaristi, Kristus, yang hidup
yang abadi dan sejati, yaitu kehadiran selama-lamanya, hadir dan kita diundang
Allah yang mengorbankan hidupNya dan ke dalam persekutuan bersama Allah Bapa
mengasihi kita tanpa batas dan tanpa syarat. dalam Roh Kudus. Kristus yang Bangkit
Melalui perayaan Ekaristi, Tuhan memimpin memberikan diri seutuhnya kepada kita:
Firman-Nya, Tubuh-Nya dan Darahnya,
singkatnya PribadiNYA dan HidupNya.
Dasar pemberian diri ini adalah Cinta.
Hendaknya dalam persaudaraan, kita saling
melayani dan memberikan diri didasari
oleh cinta. Cinta yang tidak menuntut,
cinta yang dapat menerima kelemahan
diri sendiri dan kelemahan orang lain,
cinta yang tidak bersyarat dan cinta yang
tidak saling mendiamkan dan tidak “saling
menjatuhkan”. Dalam Ekaristi, Kristus
mengangkat derajat dan harkat manusia
sampai pada keselamatan. Mengapa dalam
sejarah dan masuk ke dalam kehidupan hidup persaudaraan, tidak jarang kita justru
nyata harian manusia, di mana Allah melakukan yang sebaliknya yaitu saling
merendahkan diriNya dan memberikan “menjatuhkan”?
Suara Charitas 4

