Suster Maria Bernadin FCh

Riwayat Hidup Sr. Maria  Bernadin  FCh

Lahir di Desa Paten ( Kabupaten Sleman ) Kamis, 24 Desember 1942 dari  pasangan Bapak Yohakim Pawironawi (+) dan Ibu Sukinah (+) asli suku Jawa. Bayi perempuan itu diberi nama Cicilia Sukarni. Terlahir sebagai anak ke  4 dari 6 bersaudara. Semua saudara kandung Sr Maria Bernadin telah lebih dahulu dipanggil Tuhan.

  1. Sukarman ( + )
  2. Suyud Siswa ( + )
  3. Ngadiyem ( + )
  4. Cicilia Sukarni/ Sr. M. Bernadin FCh
  5. Rubini ( + )
  6. Rubinem ( + )

Suster Maria Bernadin berasal dari Paroki Santo Petrus dan Paulus, Klepu – Keuskupan Agung Semarang.

Suster Maria Bernadin memiliki  basic Pendidikan Kesehatan, secara khusus Bidan. Hampir seluruh hidupnya berkarya di Kesehatan baik di Klinik maupun Rumah Sakit menolong persalinan.

Pada awal pembukaan karya Kesehatan di Timika Papua, Sr Maria Bernadin bersama beberapa Suster bersedia ditugaskan di tempat yang jauh dan sepi, di Tengah hutan. Dengan semangat yang berkobar-kobar para suster melayani masyarakat papua, Sr Maria Bernadin selalu semangat kalau cerita tentang papua yang unik,

10 tahun terahir Sr Maria Bernadin mengalami gangguan Kesehatan yaitu Strok, yang mengurangi aktifitas melayani, dengan sabar beliau menjalani proses panjang untuk pemulihan. Suster Bernadin seorang yang rapi, bersih, tekun berdoa dan penyayang. Dimasa purnabakti  Sr Maria Bernadin menjalani masa senjanya di Komunitas Sta. Monika KM 7, Palembang,  ( Rumah Lansia ) sampai Tuhan memanggil.

 

Misa Requiem Sr. M. Bernadin FCh di Kapel Santa Maria Yang Terkandung Tanpa Noda

Kematian merupakan sebuah misteri ilahi yang tidak dapat dihindari oleh setiap orang. Tetapi bagi orang beriman kematian bukanlah akhir dari segalanya, melainkan awal kehidupan baru dalam keabadian bersama Tuhan. Pada tanggal 6 Agustus 2025, para suster Charitas dikejutkan oleh berita duka bahwa Sr. M. Bernardine FCh. Salah satu anggota kongregasi dipanggil menghadap Bapa di surga. Respon spontan dari para Suster “Cepat sekali Tuhan memanggil, sakitnya hanya sebentar saja. Tuhan telah menginginkan orang yang dicinta cepat kembali kepada-Nya” dan masih banyak respon yang lain. Apapun yang dipikirkan oleh manusia, yang terjadi adalah kehendak Tuhan.

Karena dari keluarga besar Sr. M. Bernadin FCh tak ada lagi yang ditunggu, maka tanggal 7 Agustus 2025 diadakan misa Requiem untuk Sr. M. Bernardine FCh yang dipimpin oleh Rm. Yohanes Kristianto, didampingi oleh Rm. Gono Pratowo, Rm. Heru Ismadi dan Rm. Pit Yunanto. Awal khotbahnya Rm Kristianto mengatakan: salah satu kecanggihan zaman sekarang adalah cepatnya informasi melalui grup-grup WA. Saya melihat umur Sr. M. Bernadin FCh sudah 84 tahun, berita ini bisa terima karena usianya memang sudah lanjut. Tak lama kemudian muncul berita bahwa Rm Thomas Eddy Susanto SCJ dipanggil Tuhan. Ini berita mengejutkan, karena Romo Eddy masih tergolong muda. Respon yang muncul berbeda-beda. Mengapa demikian, pada hal kematian memang sudah pasti untuk semua manusia. Ada yang sakit sangat lama. Ada yang kecelakaan. Ada yang benar-benar sangat tiba-tiba. Mengapa demikian?  Pertanyaan ini mengajak kita untuk memahami bahwa kematian adalah pasti. Ini adalah bagian kebijaksanaan Allah.

Jadi kematian bukan kerapuhan kalau dilihat dari janji Allah. Ini adalah prinsip iman kita “Akulah kebangkitan dan hidup, barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan percaya kepada-Ku tidak akan mati selama-lamanya”.

Terkait meninggalnya Sr. M. Bernardine FCh. Kalau dijabarkan riwayatnya mungkin tak hanya 84 halaman. Sr. M. Bernadin setia menghidupi panggilannya, menghidupi kaul-kaulnya. Bisa diuraikan dalam tiga titik poin ini:

  1. Saat masih hidup; merangkai segala peristiwa hidup, mengalami sakit, berjuang menghadapi berbagai tantangan dan lain-lain. Saudari kita ini adalah orang yang memiliki pengalaman rohani dan menterjemahkan hidupnya hingga menghadap Sang Pencipta
  2. Kini, saat ini; sungguh tak berdaya dan badanya akan hancur
  3. Masa depan yang akan datang adalah perwujudan janji Allah menikmati sukacita kekal bersama Bapa di surga.

Maka mari kita melepas saudari kita ini untuk pergi menikmati janji Allah. Dan kita juga berdoa untuk Rm. Thomas Eddy Susanto di hari yang sama dengan Sr. M. Bernadin juga dipanggil Tuhan, ungkap Rm. Kristianto mengakhiri khotbahnya.

 Bapak Tarsisius Hartiyo, mewakili keluarga Sr. M. Bernardine FCh mengucapkan terima kasih kepada para romo, para suster, bruder, frater dan para suster FCh yang telah memberi penghiburan bagi keluarga yang telah ditinggalkan oleh Sr. Bernadin. Bulan Juni-Juli 2025 Suster Bernardin cuti dengan penuh sukacita bersama keluarga, namun tak menyangka dua bulan setelah kami mengantar Suster kembali ke Palembang, kami mendapat berita yang sangat mengejutkan bahwa Sr.  Bernardin telah kembali menghadap Bapa di surga. Kami merasa sedih namun kami juga bersyukur kepada Tuhan dan terima kasih yang mendalam kepada kongregasi Charitas yang telah memberi kesempatan boleh mengalami kebersamaan dengan Sr Bernadin meski sejenak. Terima kasih pada para suster komunitas Monika. Terima kasih sekali lagi kepada para suster Kongregasi Charitas yang telah mencintai Sr. Bernardin hingga akhir hidupnya. Semoga kebaikan saudara-saudari semua berkenan bagi Tuhan, ucap Bapak Tarsisius mengakhiri sambutannya.

Kemudian Sr. M. Patricia FCh juga menyampaikan sambutan. Yang pertama  mengucapkan terima kasih kepada Rm Kristianto yang telah memimpin misa requiem untuk Sr. M. Bernadin FCh. Selanjutnya Sr. Patricia menyapa keluarga besar Sr. M. Bernadin: tentu hari ini secara manusiawi kita sangat kehilangan karena Sr. Bernadin begitu cepat pergi. Setiap cepat tidak selalu buruk. Bahwa kemarin menurut para suster yang berkunjung, mengatakan Sr Bernardine masih bercerita, namun hari berikutnya yang terjadi berbeda. Tuhan yang memberi Tuhan yang memanggil kembali. Terima kasih keluarga besar yang telah mempersembahkan Sr Bernardine untuk melayani dimanapun bertugas memberi kesaksian hidup. Selama ini tugas Sr Bernadin membantu kelahiran bayi, untuk selanjutnya pasti melahirkan kerohanian. Di surga tambah lagi pendoa untuk kita semua. Semuanya menjadi nyata bahwa Tuhan berkuasa atas hidup kita.

Cuti bulan Juni-Juli 2025 merupakan cuti yang paling membahagiakan untuk Sr. Bernadin dan keluarga. Sr. Bernardin adalah pribadi yang tulus, sederhana, pendoa, rendah hati, penuh kerelaan dan penuh pengampunan. Seakan-akan kami mau bertanya kenapa Tuhan begitu cepat memanggilmu. Namun Tuhan ingin menambahkan pendoa di surga. Selamat jalan Sr. Bernardin, mawar Charitas, doakan kami semua, ungkap Sr. Patris menutup sambutannya.

Usai pemakaman di Taman Getsemani, semua yang mengikuti perayaan ekaristi untuk menghantar ke peristirahatan terakhir bagi Sr. Bernadin diundang untuk menikmati santap siang bersama di Aula Biara Pacomia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More Articles & Posts