Spiritualitas FCh

Kongregasi Suster Santo Fransiskus Charitas adalah kongregasi religius aktif (yang berjiwa kontemplatif), yang mewujudkan panggilannya di dalam Gereja lokal (Keuskupan) dan Universal serta di tengah masyarakat dunia. Gereja dan dunia adalah “ladang” atau “kebun” di mana para suster FCh mewujudkan penghayatan spiritualitas belarasa yang-tak-terbagi dalam tindakan mengabdi, mencintai dan melayani melalui karya di bidang kesehatan, pendidikan, sosial karitatif, pastoral kategorial maupun parokial.

Arti belarasa-yang-tak-terbagi

Secara etimologi, kata belarasa atau compassion memiliki arti perasaan yang mendorong untuk ikut serta merasakan penderitaan sesama yang lain atau bisa diartikan dengan kata lain, yakni belaskasih.

Sementara kata “yang-tak-terbagi”, memiliki arti: perihal totalitas, utuh, satu, bulat, sempurna, lengkap, paripurna.

Maka secara sederhana dan singkat, makna belarasa yang-tak-terbagi dapat dimengerti sebagai tindakan yang didorong oleh perasaan ikut serta merasakan penderitaan sesama dengan hati yang utuh, total dan sempurna. Total atau sempurna dimengerti sebagai pemberian diri yang utuh, integral dan tidak setengah-setengah.

Pendasaran Kristologi

Pendasaran Kristologi dari belarasa atau belaskasih yang kita hayati bersumber dari ajaran Yesus Kristus dan teladan tindakan yang telah dilakukan-Nya. Kisah tentang belarasa atau belaskasih dapat kita temukan di dalam Injil, misalnya; Perumpaan Orang Samaria yang Baik Hati (Luk. 10:25-37) yang mengaskan bahwa ketika kita menolong sesama, kita mesti menolong dengan tulus dan tuntas. Kita juga bisa belajar dari teladan karya-Nya, ketika Ia memberi makan banyak orang (Mat. 15:32-39; Mrk. 8:2), menyembuhkan orang sakit; lumpuh, bisu-tuli, buta (Mrk 2: 1-12; Mrk 7: 31-37; Luk 18: 35-43), menghibur orang yang berduka (bdk. Yoh 11:17-20), mengampuni dosa (Luk 5: 17-25), dan menghidupkan orang mati (Mrk 5: 22; Luk 8: 41).

Semua ini dilakukan-Nya karena hati-Nya tergerak oleh belas kasih. Yesus memiliki perasaan yang dalam atas penderitaan, kesusahan, dan kesedihan orang lain, dan perasaan ini mendorong-Nya bertindak. Ia memberi teladan dengan menjadi pelaku dan pelaksana ajaran “kasih” yang Ia wariskan kepada para murid-Nya.

Panggilan atau tugas utama serta keprihatinan Guru Kehidupan dari Nazareth ditulis dengan sangat jelas dalam Injil Markus: “Saatnya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil”. Pesan yang Yesus sampaikan begitu sederhana. Ia mengajarkan orang-orang untuk berbalik dari jalan yang jahat (bertobat) dan percaya kepada-Nya, karena Kerajaan Allah telah hadir.

Belaskasih Allah secara nyata menurut Santo Fransiskus Assisi, tampak jelas dalam peristiwa pengosongan diri atau perendahan diri Yesus Kristus (dalam peristiwa kenosis) yakni dalam peristiwa inkarnasi, salib, dan ekaristi. Radikalitas dan totalitas kasih/ totalitas caritas sangat nyata dalam peristiwa wafat-Nya di salib. Semua diberikan, bahkan nyawa-Nya pun direlakan, demi keselamatan manusia dan dunia.

Kita tidak mungkin mengabdi kepada dua tuan. Dalam hidup pengabdian, kita harus memilih, mengabdi kepada Tuhan atau mamon (Mat. 6:24 Mat. 22:20b). Sebagai seorang penghayat FCh, totalitas dihayati dengan cara mengikuti Kristus “demi Kerajaan Allah” (Mat 12: 12), secara radikal dan hati yang tak terbagi. Hidup yang seutuhnya diserahkan kepada Allah dan kepada sesama; mengikuti Sang Juru Selamat yang karena cinta kasih terhadap umat manusia merelakan diri-Nya wafat di salib, dan menjadikan Diri-Nya hamba (bdk. Konst. 101).

Mengakar dan Mengalir dari Karisma Muder Theresia Saelmaekers

Spiritualitas belarasa-yang-tak-terbagi yang dihayati oleh para suster Santo Fransiskus Charitas juga mengakar dan mengalir dari Karisma Muder Theresia Saelmaekers: “Dalam kegembiraan, kesederhanaan, dan terutama dalam cinta kasih membantu sesama manusia, sambil berdoa serta berkurban, menampakkan sukacita hidupmu sendiri di tengah orang sakit dan orang miskin” (Konst. 103).

Spiritualitas belarasa-yang-tak-terbagi diwujudkan dalam panggilan kerasulan seturut karisma Pendiri, yakni:

  1. Membantu sesama manusia dengan semangat kegembiraan, kesederhanaan, cinta kasih, sambil berdoa dan berkurban, serta
  2. Menampakkan sukacita hidup sendiri terutama di tengah orang sakit dan orang miskin. Prioritas pelayanan dan pilihan karya adalah keberpihakkan pada orang sakit dan miskin.

Dalam tindakan “membantu sesama”, tidak sekedar membantu, namun dijiwai dengan semangat kegembiraan, kesederhanaan, cinta kasih, sambil berdoa dan kurban.

Gembira

Para suster FCh, seturut teladan Muder Theresia Saelmaekers, menghayati kegembiraan dengan berani memercayakan diri pada Penyelenggaraan Ilahi dan menjadi pribadi yang penuh syukur serta tidak melekat pada jabatan, tempat, dan hak-hak istimewa (Konst. 104).

Setiap suster menjadikan dirinya seorang pribadi yang gembira dengan pertama-tama menyadari dan menerima dirinya apa adanya dan bangga dengan karunia yang Allah anugerahkan kepadanya, ramah, murah senyum dan senang mendengarkan. Ia membangun pikiran positif dan berani menampilkan dirinya apa adanya, membangun sikap optimis dan terbuka akan segala hal yang baik, dan memandang banyak hal dalam terang iman.

Sederhana

Seturut teladan Muder Theresia Saelmaekers, para suster menghayati kesederhanaan dengan tindakan nyata yakni mengunakan barang atau fasilitas disesuaikan dengan kebutuhan dan mengenakan pakaian yang sederhana serta hidup bersahaja dan sukarela dalam berbagi (Konst. 105).

Seorang suster FCh menyatakan kesederhanaannya dalam sikap rendah hati, tidak sombong, lemah lembut, berbicara tidak dibuat-buat, bertutur kata sopan-teratur-bermanfaat, tidak menonjolkan diri, berbicara sesuai fakta, berani memuji dan mengakui kelebihan orang lain, jujur (tidak berbelit-belit dan manipulatif), tidak tamak, berani berkata cukup, tidak takut akan penilaian orang lain terhadap dirinya, dan mengatakan kebenaran secara terbuka dengan rendah hati.

Cinta kasih

Para suster FCh, seturut teladan Muder Theresia Saelmaekers mewujudkan cinta kasih sebagai ungkapan syukur atas pengalaman akan cinta kasih Allah yang memampukannya berbela-rasa-yang-tak-terbagi pada sesama manusia terutama yang sakit, miskin, dan membutuhkan pertolongan, serta mendorongnya menghormati sesama secara utuh (Konst. 106).

Seorang suster FCh mewujudkan cinta kasih dalam pelayanan tanpa pamrih dan tanpa membedakan, membangun relasi dengan siapapun dengan tulus iklas, mencintai kebenaran dan keadilan, mudah mengampuni, tidak mengumbar kelemahan atau kesalahan orang lain, tidak bergosip, memiliki kerelaan untuk saling mendukung, membanggakan /memuji dan mendoakan.

Doa

Seturut teladan Muder Theresia Saelmaekers, para suster FCh mengungkapkan hubungan pribadi dan bersama dengan Tuhan dalam hidup doa dan dalam keutamaan rohani. Hidup doa para suster dipersubur melalui samadi, hening, pengosongan diri di hadapan Allah, dan penerimaan sakramen (Konst. 107 & 300-313).

Para suster dengan hati yang murni merayakan Ibadat Harian dalam persekutuan dengan Gereja dan merayakan Ekaristi dengan rendah hati dan penuh hormat sebagai sumber dan puncak seluruh hidup Kristiani (Konst. 304 & 311).

Seorang suster membangun relasi secara intim dan personal dengan Yesus yang di tengah pelayanan dan pewartaan Kerajaan Allah, menyempatkan diri dan meluangkan waktu untuk berdoa (Konst. 300). Ia dengan tidak jemu-jemu berdoa baik dalam kebersamaan di komunitas maupun doa pribadi sebagai ungkapan mesra kasihnya kepada Allah dan sesama (Konst. 302-306).

Dalam doa hariannya, para suster berusaha mendengar dan menerima kehendak Bapa untuk memahami dan menanggapi karya Allah yang suci dalam hidup mereka sendiri dan di dunia.

Kurban

Para suster seturut teladan Muder Theresia Saelmaekers mewujudkan semangat berkurban dengan mempersembahkan dirinya pada Tuhan terus-menerus dalam kerendahan hati, taat, cinta kasih yang menghamba, pengingkaran diri, dan berani meninggalkan kenyamanan demi cinta kasih yang semakin nyata (Konst. 108).

Seorang suster menempa diri dan mewujudkan kerelaan berkurban dengan berani menanggung resiko, mengalahkan kepentingan diri sendiri, merelakan kesenangan – keinginan dan kenyamanan demi nilai yang lebih tinggi dan demi hidup yang lebih religius dan bermutu, serta demi kebenaran dan kebaikan komunitas, kongregasi dan banyak orang.

Sukacita

Secara khusus, para suster FCh dipanggil untuk menampakkan sukacita hidupnya sendiri di tengah orang sakit dan miskin. Seturut teladan Muder Theresia Saelmaekers, para suster meletakkan seluruh dirinya dalam bimbingan Roh Tuhan dalam melaksanakan rencana Allah demi keselamatan manusia, sehingga di mana pun dan dalam situasi apa pun, mereka menghayati hidup dan karyanya dengan sukacita sejati. Seorang suster FCh memberi kesaksian akan sukacita hidupnya sendiri ketika melayani dan bersama orang-orang jelata, miskin, lemah, dan sakit (Konst. 109).

Untuk menjadi pribadi yang penuh sukacita, seorang suster membangun relasi yang intim dengan Allah, diri sendiri, sesama dan alam semesta, dan mensyukuri hidupnya sebagai anugerah yang cuma-cuma dari Allah. Ia bahagia karena dicintai Allah, dan menghidupi panggilan dengan serius, senang, tekun serta setia menjalankan tugas perutusannya.

Anggota Ordo III Regular Santo Franasikus Assisi

Sebagai Anggota Ordo III Regular Santo Fransikus Assisi, spiritualitas belarasa-yang-tak-terbagi mesti didasari cara hidup seturutAnggaran Dasar Ordo III Regular yakni berpegang teguh pada ke empat (4) pilar hidup fransiskan yakni: kemiskinan, kedinaan, pertobatan dan kontemplasi/ doa.

Peniten dan Rekolek

Spirit belarasa-yang-tak-terbagi juga mengakar pada cara hidup sebagai peniten dan rekolek.

Menjadi seorang peniten atau pentobat berarti merendahkan diri di hadapan Allah dengan bertobat terus-menerus sambil melakukan laku tapa, dan mati raga (Kons 103). Dan seperti Yesus yang mengosongkan diri dan wafat di salib, para suster dengan hati ringan menghadapi segala rintangan dan rela mengorbankan diri demi semakin banyak orang diselamatkan dan nama Allah dimuliakan. Para suster menghayati penyangkalan diri terus-menerus terhadap keinginan keinginan diri yang menyesatkan dan melakukan perbuatan kasih kepada sesama terutama mereka yang tersingkir dan menderita serta yang membutuhkan pertolongan.

Muder Theresia Saelmaekers juga mewariskan cara hidup sebagai seorang rekolek karena mengikuti Pembaruan Limburg – oleh Yohana dari Yesus, yang mewajibkan para pengikutnya menghayati keheningan yang berpola pada “Fiat” Maria. Sebagai seorang rekolek, para suster memiliki sikap batin yang hening di hadapan Allah seturut teladan Maria Yang Terkandung Tanpa Noda dan memusatkan perhatian pada Allah dan kerajaan-Nya (Konst. 101). Para suster menghayati dan menghidupi semangat kemurnian hati, kemiskinan Roh, kasih mengasihi dalam persaudaraan, dan tekun meneladan Bunda Maria dalam mendengarkan, merenungkan, memelihara dan melakukan Sabda Yesus, Putranya, dalam hidup sehari-hari dengan tekun, setia dan sukacita.

Profesi Religius

Spiritualitas FCh belarasa-yang-tak-terbagi, diwujudkan dalam tindakan nyata yakni mengikuti Kristus secara radikal dan hati yang tak terbagi “demi Kerajaan Allah” (Mat 12: 12), dengan cara menghayatinya dengan membaktikan diri seutuhnya kepada Allah di dalam Gereja melalui profesi religius yakni ketaatan, kemiskinan – hidup tanpa milik dan kemurnian tidak menikah (Konst. 112), serta mewujudkan di tengah Gereja dan masyarakat (Konst. 101).

  1. Para suster membaktikan dirinya secara total, tanpa pamrih kepada perutusan yang khas Kongregasi, yakni membantu sesama manusia terutama yang sakit dan miskin, serta memupuk pengalaman rohani yang mendalam serta berjalan bersama dalam persaudaraan menuju pada kesucian (Konst. 902).
  2. Para suster bergerak keluar dari kemapanan dan egoisme untuk menjumpai sesama terutama yang miskin dan berkekurangan, serta menjalankan misi evangelisasi dengan memberdayakan, merawat, menyembuhkan dan terlibat dengan sepenuh hati pada penderitaan sesama dan situasi konkret zaman ini (Konst. 903).
  3. Dalam mengikuti Kristus, para suster FCh menyadari bahwa Anggaran Dasar Ordo III Regular dan kharisma Ibu Pendiri menjadi cara hidup yang mengarahkan pada tujuan Kongregasi yakni menguduskan anggotanya (Konst. 110).
  4. Pengalaman perjumpaan dengan Allah secara pribadi dan akan belas kasih Allah serta hidup dalam persaudaraan, menuntun para suster menampakkan sukacita hidupnya sendiri dan menjadikan mereka saudara bagi setiap orang dan setiap makluk, dengan semangat gembira, sederhana, cinta kasih, doa, dan kurban (Konst. 900).

Spiritualitas belarasa-yang-tak-terbagi secara konkret dalam karya dapat diwujudkan dengan tindakan; solidaritas, kesetiakawanan, kesediaan untuk berbagi, menjumpai sesama dan keluar dari zona nyaman, care terhadap; kesusahan orang lain, penderitaan, penolakan, serta keberpihakan atau menaruh prioritas karya pada orang sakit dan orang miskin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More Articles & Posts