Sr Maria Fidelis FCh

Riwayat Hidup

Sr M Fidelis FCh lahir di Grigak – Yogyakarta, 01 Desember 1942, dari pasangan Sanapawiro (+) dan Ibu Maria
Daliyem (+) kedua orangtua berasal dari Jawa. Bayi perempuan bergolongan darah A itu diberi nama
Maria Supiyem. Terlahir sebagai bungsu dari 3 bersaudara. Kedua kakak Sr Fidelis sudah mendahului
beliau yaitu Bapak Tarsisius Sarjono ( + ) dan Bapak Yohanes Suyadi ( + )
Suster Maria Fidelis berasal dari Paroki Santo Petrus dan Paulus, Klepu – Keuskupan Agung Semarang.
Suster Maria Fidelis Seorang yang sederhana, rajin, pendoa dan happy, mudah akrab dengan orang
orang yang dijumpai. Beliau suka menyanyi, gembira dan sukacita yang menjadi ciri khasnya.
Sr Maria Fidelis, berkarya sampai usia senja, walaupun sudah usia lanjut tetap semangat
memperhatikan orang-orang sakit di Rumah Sakit dan Panti Jompo. Memang melayani dan mengasihi
itu tidak dibatasi oleh usia, tapi semangat yang menggelora untuk tetap hadir di tengah orang sakit dan
lansia.
Suster Fidelis juga nrimo atas segala penyakit yang menghampirinya, tidak rewel.
Dalam keadaan sakit, duduk di kursi roda senang menyanyi, ikut doa dan misa bersama para suster.
Hampir tidak ada alasan untuk murung. Romo – romo yang melayani misa di Komunitas Monica, pasti
mengenal Sr Fidelis yang saking gembiranya dan memperhatikan, kalau Romo kotbah beliau spontan
nyahut oh…oh…ya…ya….
Dimasa purnabakti Suster Maria Fidelis menjalani masa senjanya bersama Suster-suster lansia lainnya
di Komunitas Sta. Monika KM 7, Palembang, ( Rumah Lansia ) sampai Tuhan memanggil dengan cara
yang indah.

Riwayat Pendidikan
SR Xaverius Mojosari: Lulus 01 Agustus 1955
SMP Xaverius Belitang: Lulus 08 Agustus 1962
Sekolah Juru Rawat RS. RK. Charitas Palembang:Lulus 19 Juli 1965

Perjalanan Formasio Panggilan

Masuk Biara: Kongregasi Suster Santo Fransiskus Charitas Palembang:
❖ Penerimaan Postulan pada 06 Agustus 1963
❖ Penerimaan Busana Biara pada 15 Agustus 1964
❖ Profesi Sementara pada 15 Agustus 1965
❖ Profesi Kekal pada 17 Desember 1972
❖ Merayakan 25 Tahun Hidup Membiara pada 15 Agustus 1990
❖ Merayakan 40 Tahun Hidup Membiara pada 08 Desember 2005
❖ Merayakan 50 Tahun Hidup Membiara pada 08 Desember 2015
❖ Merayakan 60 Tahun Hidup Membiara pada 08 Desember 2024

 

Perjalanan Karya dan Komunitas

  1. Pada 1965 – 1969 tinggal di Komunitas Charitas Pusat bertugas : Perawat di RS. Charitas Palembang
  2. Pada 1969 – 1971 tinggal di Komunitas Charitas Gumawang Belitang bertugas : Perawat di RS.
    Charitas Belitang
  3. Pada 1972 – 1975 tinggal di Komunitas Charitas San Damiano KM 7 bertugas : Perawat di BP
    Charitas KM 7 Palembang.
  4. Pada 1975 – 1979 tinggal di Komunitas Charitas Klepu bertugas : Perawat di RS. Charitas Klepu
  5. Pada 1979 – 1982 tinggal di Komunitas Charitas Sei Buah, bertugas : Guru di YPAC Palembang
  6. Pada 1982 – 1987 tinggal di Komunitas Charitas Pusat bertugas : Guru YPAC Palembang
  7. Pada 1988 – 2005 tinggal di Komunitas Charitas San Damiano KM 7 bertugas : Perawat di Panti
    Wherda /Jompo KM 7 Palembang
  8. Pada 2005 – 2006 tinggal di Komunitas Charitas St. Nicolaus bertugas : Rumah tangga biara.
  9. Pada 2006 – 2007 tinggal di Komunitas Charitas San Damiano KM 7 bertugas : Pastoral Care RS
    Myria KM 7 Palembang
  10. Pada 2008 – 2025 tinggal di Komunitas Charitas Sta. Monica KM 7 bertugas : Pastoral Care RS Myria
    KM 7 Palembang sampai 2010, dan selanjutnya menjalani masa pensiun/purnakarya dengan tugas
    kerasulan doa

Riwayat Sakit
Pada 15 Feb 2022, Sr Fidelis mengalami Patah tulang pinggang, lalu menjalani operasi di RS Myria,
pasang pen. Sejak itu Suster Fidelis, memakai alat bantu kursi roda .
Sr Fidelis memiliki riwayat stroke cukup lama, lemah ekstremitas kanannya. Rencana akan kontrol
kesehatan ke Dokter 13 Desember 2025. Selama ini Suster rutin minum obat, tidak ada keluhan yg
sangat berarti.

Pagi hari Rabu, 10 Desember 2025, Suster Fidelis masih ikut misa seperti biasa, pertengahan misa
suster tiba-tiba terasa mau muntah, maka diajak kembali ke kamar dan terima komuni di kamar.
Karena Kondisi Sr Fidelis semakin lemah, maka suster dibawa ke IGD Charitas Hospital KM 7.
Di Rumah Sakit Suster Fidelis menerima sakramen perminyakan dari Rm Lorensius Suwanto SCJ
pkl 07.30 WIB, dihadiri oleh para Suster dan beberapa orang keluarga Suster Fidelis.
Setelah mendapatkan pemeriksaan dan terapi di IGD, Sr Fidelis dipindahkan ke ruangan rawat inap
Fransiskus, dengan kondisi penurunan kesadaran dan selama dirawat di ruang inap Suster tidak
sadar lagi.

Pada hari kedua perawatan, Suster Fidelis masih belum sadar, dokter Mangiring Spesialis Jantung
yang ikut merawatnya melakukan pemeriksaan echo dan hasilnya CAD (Coronary Artery Disease)
adalah penyakit jantung koroner, kondisi serius, dan diberikan terapi untuk gangguan jantungnya.
Dalam kondisi tidak sadar, tangan kiri Sr Fidelis selalu memegang kuat tangan para suster yang
datang membezuknya atau menjaganya.
Kamis Pkl 11.10 menit kondisi Suster Fidelis semakin melemah, para Suster dan keluarga
berkumpul mendampinginya dalam doa. Tepat pkl 11.25 Tuhan memanggil Suster Fidelis yang
dikasihiNya.

Motto

Sr. Maria Fidelis FCh : “Ecce Ancilla” diwujudkan dalam hariannya dengan memperhatikan dan
melayani mereka yang sakit dan berkekurangan .

Demikian riwayat hidup Sr. Maria Fidelis FCh.
Selamat jalan Mawar Charitas, terima kasih untuk kesetiaan Saudari, menjadi mempelai Kristus. Semoga
perjumpaan dengan Sr. Maria Fidelis FCh mengajari kita bahwa gembira itu adalah obat jiwa yang
menyembuhkan. Doa-doa kami mengiringi jalanmu menuju Rumah Bapa di Surga.

Misa Requiem

Perayaan misa Requem hari ini berlangsung dalam suasana hening dan penuh doa ketika umat, para suster, serta seluruh keluarga besar berkumpul untuk mendoakan kepergian Sr. Maria Fidelis, FCh. Misa dipimpin oleh Romo Gono Pratowo dan didampingi dua imam konseberan, yang dalam homilinya mengajak umat memandang kematian bukan sebagai akhir, tetapi sebagai perjalanan pulang ke rumah Bapa. Beliau membuka renungan dengan kisah menyentuh tentang seorang anak kecil yang berjalan melewati pemakaman bersama kakeknya. Ketika melihat deretan nisan, anak itu bertanya siapa orang-orang yang beristirahat di sana. Sang kakek menjelaskan bahwa dahulu mereka tinggal di rumah seperti kita, tetapi ketika Tuhan memanggil, mereka kini tinggal di “rumah-rumah” itu. Dengan kepolosannya, sang anak menambahkan bahwa mereka mungkin “meninggalkan pakaian mereka”, sebuah gambaran sederhana namun indah tentang peralihan dari kehidupan duniawi menuju kehidupan kekal.

Dari kisah tersebut, Romo Gono menegaskan bahwa hidup manusia adalah sebuah perjalanan Panjang sebuah peziarahan dari kelahiran hingga saat kita kembali kepada Tuhan. Seperti bangsa Israel yang berjalan menuju tanah terjanji, demikian pula hidup kita menuju tanah perjanjian sejati: surga, tempat kedamaian dan kepenuhan hidup dalam Allah. Rasul Paulus menggambarkan hidup dunia ini sebagai kemah, tempat tinggal sementara bagi para peziarah yang terus bergerak menuju kediaman kekal. Berangkat dari pemahaman ini, Romo mengajak umat untuk tidak terpaku pada hal-hal duniawi, tetapi selalu memusatkan pandangan pada Tuhan sebagai tujuan akhir perjalanan hidup.

Dalam homilinya, Romo Gono juga membagikan pengalaman personal bersama Sr Fidelis tepatnya pada hari Sabtu terakhir sebelum Sr. Fidelis dipanggil Tuhan. Biasanya, Sr. Fidelis masih menunjukkan responya menjawab sapaan, tersenyum, atau memberi reaksi kecil. Namun pada hari itu, tidak ada satu pun respons. Bahkan ketika dinyanyikan lagu “Nderek Dewi Maria” yang biasanya ia tanggapi, ia tetap terdiam. Keheningan tersebut, menurut Romo, menjadi isyarat lembut bahwa ziarah hidupnya hampir selesai dan Tuhan sedang mempersiapkannya untuk pulang. Dari pengalaman ini, Romo mengajak umat menyadari rapuhnya kehidupan, sehingga setiap kesempatan untuk mengasihi dan saling mendampingi merupakan anugerah yang patut disyukuri.

Menutup homilinya, Romo Gono mengajak umat dengan penuh iman mendoakan jiwa Sr. Fidelis agar diterima dalam kedamaian abadi. Ia meneguhkan keluarga dan komunitas bahwa perjalanan hidup Sr. Fidelis telah berakhir dengan indah. Ia telah kembali ke rumah Bapa yang menyediakan tempat bagi semua anak-Nya. Duka yang dirasakan hendaknya tidak menjadi keputusasaan, tetapi menjadi kesempatan untuk memperkuat iman akan kebangkitan dan melanjutkan teladan kebaikan yang telah diwariskan almarhumah.

Dalam kesempatan ini, keluarga menyampaikan salam dan ungkapan duka mendalam atas kepergian Suster Fidelis. Mereka memohon maaf karena tidak dapat hadir secara langsung pada saat-saat terakhir, namun dari Malang, Jakarta, hingga Yogyakarta, seluruh keluarga tetap menghantar beliau dengan doa yang tulus, memohon agar Suster beristirahat dalam damai. Ungkapan belasungkawa juga disampaikan oleh Y.B. Marty Kartono, SJ yang menitipkan penghormatan terakhir melalui pesan yang dibacakan dalam perayaan misa.

Perwakilan keluarga kemudian melanjutkan sambutan dengan suara penuh haru. Kepergian Suster Fidelis, bagi keluarga, meninggalkan ruang hampa yang mendalam. Meskipun waktu kebersamaan semasa kecil sangat terbatas, umumnya hanya saat cuti dua mingguan yang dibagi bersama banyak anggota keluarga kenangan itu tetap tersimpan kuat, terutama tradisi kecil yang tak pernah berubah yakni membagiakan coklat. Setiap kali Suster Fidelis pulang, pertanyaan para cucu bukan mengenai kabar, tetapi, “Mana coklatnya, Simbah?” Dengan penuh kasih, Suster membagikan coklat satu per satu kepada anak-anak yang berbaris sesuai urutan, memeluk mereka, lalu mengajak seluruh keluarga berdoa sebelum menikmati pemberian itu.

Tradisi sederhana tersebut berulang dari tahun ke tahun dan perlahan membentuk pemahaman bahwa Suster Fidelis adalah pribadi yang memancarkan kasih, kesetiaan, serta keteguhan hidup religius. Bahkan ketika cucunya masuk seminari, Suster tetap hadir setiap Minggu dengan membawa coklat yang sama. Ketika kunjungan dilakukan bergantian, coklat itu tetap muncul tanpa pernah terlewat. Dari pengalaman-pengalaman kecil itu, Suster Fidelis telah menyalakan banyak “lilin harapan” dalam hati banyak orang. Coklat-coklat kecil itu bukan sekadar hadiah, melainkan simbol perhatian, doa, dan cinta yang diberikan dalam kesederhanaan.

Keluarga menyampaikan rasa syukur yang mendalam karena telah menjadi bagian dari perjalanan hidup Suster Maria Fidelis FCh. Mereka juga mengucapkan terima kasih kepada para romo, para suster, serta semua pihak yang telah mendampingi dan merawat beliau, terutama Kongregasi St. Fransiskus Charitas yang selalu setia memberikan kasih dan perhatian. Menutup sambutan, keluarga menyerahkan seluruh rangkaian prosesi pemakaman ke dalam terang Kristus, agar menjadi ungkapan iman dan syukur atas hidup Suster Fidelis yang penuh pengabdian. Dengan kerendahan hati, mereka memohon agar Tuhan berkenan menerima Suster dalam kediaman abadi di surga. Kemudian setelah selesai perayaan ekaresti selesai dilanjutkan dengan prosesi pemakaman ditaman Getzemani.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More Articles & Posts