Sr. M. Bernarda FCh

Sabtu, 28 Februari 2026 pukul 01.26 WIB, Sr. Maria Bernarda FCh berpulang ke rumah Bapa dalam usia 84 tahun di Charitas Hospital Palembang. Jenazah disemayamkan di Kapel Charitas Pusat Santa Perawan Maria Tak Bernoda. Misa Requiem dilaksanakan Minggu, 1 Maret 2026 pukul 10.00 WIB, dipimpin oleh Uskup Keuskupan Agung Palembang, Mgr. Yohanes Harun Yuwono, sebelum prosesi pemakaman di Taman Getsemani.

Dalam homilinya, Mgr. Yohanes mengajak umat belajar dari Nabi Musa. Musa menapaki perjalanan panggilannya tanpa peta, tanpa penunjuk arah yang pasti, tidak seperti zaman sekarang yang serba terbantu oleh teknologi. Bahkan oleh aplikasi penunjuk jalan seperti Google Maps. Namun, kendati peta tersedia, manusia tetap dapat tersesat. Karena itu, dibutuhkan kekuatan lain: iman.

“Iman bukan sekadar pengalaman indah seperti berkemah di atas gunung. Iman justru menuntut keberanian untuk turun gunung, masuk ke dalam realitas kehidupan yang konkret, realitas yang sering kali memuat pengorbanan dan penderitaan. Tanpa Jumat Agung, tidak akan ada Minggu Paskah. Tanpa sengsara, tak ada kebangkitan”, tegas Mgr. Harun. 

Refleksi itu menemukan wujud nyatanya dalam pribadi Sr. Maria Bernarda FCh. Hidupnya menjadi gambaran iman yang membumi. Iman yang tidak berhenti pada doa, melainkan menjelma dalam pelayanan sehari-hari. Selama kurang lebih 22 tahun, ia berkarya di Paroki Para Rasul Kudus, Tegalsari. Di sana, ia menghadirkan sentuhan kasih melalui pelayanan kesehatan, karya pastoral, dan pendampingan umat. Sebagai seorang suster sekaligus bidan, ia menjalani panggilannya dengan kesederhanaan dan totalitas. Ratusan bayi telah dibantunya lahir dengan selamat. Kini, sebagian dari mereka telah tumbuh dewasa. Bahkan ada yang memilih jalan hidup religius, mengikuti jejak pengabdian yang pernah mereka saksikan.

Namun pelayanan Sr. Bernarda tidak hanya menyentuh mereka yang membutuhkan pertolongan medis. Banyak pribadi yang datang dengan pergulatan batin, membawa kesedihan, kemarahan, bahkan kekecewaan. Dalam diri beliau mereka menemukan penghiburan dalam kehadiran yang lembut dan meneduhkan. Ia menerima setiap orang tanpa memandang latar belakang.

Suatu ketika ia ditanya tentang pengalamannya mendampingi para grandong. Dengan penuh semangat ia berkisah, demikian, “koncoku lho grandong-grandong kae”, hal ini dikarenakan di wilayah Belitang yang pada masa lalu sungguh dikenal dengan keberadaan mereka. Sebagian bahkan pernah disembunyikan di biara demi melindungi mereka dari amukan masyarakat. Bagi Sr. Bernarda, mereka bukanlah kelompok yang harus dijauhi, melainkan sesama yang layak dirangkul dan dikasihi.

Kepergian Sr. M. Bernarda FCh meninggalkan duka mendalam, tetapi juga warisan iman dan pelayanan yang terus hidup dalam kenangan banyak orang. Hidupnya adalah kesaksian tentang kasih yang nyata, kasih yang sederhana, setia, dan tanpa syarat. Sebuah iman yang berani turun gunung, tinggal di tengah umat, dan menjadi tanda kehadiran Allah dalam keseharian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More Articles & Posts