Malam Syukur Seabad FCh: Gubernur Sumsel Apresiasi Satu Abad Pelayanan Charitas bagi Masyarakat

Palembang, 9 Juli 2026 – Sukacita peringatan 100 Tahun Kehadiran Kongregasi Suster Santo Fransiskus Charitas (FCh) di Indonesia memuncak dalam Malam Ramah Tamah yang mempertemukan para pemimpin Gereja, pemerintah, mitra karya, dan masyarakat yang diselenggarakan pada Kamis (9/7), di Ballroom Asisi Lantai 8 Charitas Hospital Palembang. Malam syukur ini menjadi ungkapan terima kasih atas penyelenggaraan Tuhan yang telah menuntun perjalanan Kongregasi FCh selama satu abad berkarya bagi Gereja dan bangsa Indonesia.

Hadir dalam acara tersebut Gubernur Sumatera Selatan Dr. H. Herman Deru, S.H., M.M., serta para pimpinan lembaga, mitra karya, tokoh masyarakat, dan sahabat Kongregasi yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan pelayanan FCh. Kehadiran berbagai unsur masyarakat menjadi bukti nyata bahwa karya pelayanan Kongregasi Suster Santo Fransiskus Charitas selama seratus tahun tumbuh dan berkembang melalui semangat kolaborasi dan kebersamaan dengan banyak pihak.

Perarakan Agung Lintas Generasi Membuka Perayaan

Acara diawali dengan perarakan agung lintas generasi Suster Santo Fransiskus Charitas (FCh) yang mengusung Logo 100 Tahun FCh sebagai simbol estafet semangat dan karisma Kongregasi. Diiringi alunan lagu Kusumawijaya, para pembawa logo berjalan memasuki ruang perayaan, disusul para suster sepuh dan senior yang menggandeng para suster muda sebagai lambang kesinambungan panggilan, persaudaraan, dan pewarisan nilai-nilai Charitas dari satu generasi ke generasi berikutnya. Perarakan tersebut mencapai puncaknya ketika Logo 100 Tahun FCh diterima oleh para Suster Dewan Penasihat Pemimpin Umum FCh sebagai ungkapan komitmen untuk terus menjaga dan meneruskan warisan spiritualitas Kongregasi dalam perjalanan menuju abad kedua pelayanan.

Ungkapan Syukur atas Perjalanan Seabad

Dalam sambutan pembuka, Suster M. Albertin, FCh, selaku Ketua Panitia Perayaan Syukur 100 Tahun Kehadiran Kongregasi Suster Santo Fransiskus Charitas di Indonesia, mengajak seluruh hadirin memaknai perayaan seabad ini sebagai ungkapan syukur atas penyelenggaraan Tuhan yang senantiasa menyertai perjalanan Kongregasi sejak kehadirannya di Indonesia pada tahun 1926. Ia juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh panitia serta berbagai pihak yang telah mendukung rangkaian perayaan selama satu tahun terakhir hingga mencapai puncaknya pada Malam Syukur Seabad FCh. Dalam kesempatan tersebut, Suster M. Albertin turut menyampaikan laporan singkat mengenai berbagai kegiatan yang telah diselenggarakan sepanjang Tahun Yubileum sebagai wujud syukur atas 100 tahun karya pelayanan Kongregasi FCh di Indonesia.

Drama Musikal Menghidupkan Kisah Para Pionir

Seluruh hadirin diajak menyelami perjalanan satu abad Kongregasi Suster Santo Fransiskus Charitas melalui sebuah drama musikal sebagai persembahan syukur yang merangkum esensi dan refleksi mendalam atas karya pelayanan FCh di Indonesia. Dengan memadukan seni peran, musik, tari, dan visual, pementasan ini menghidupkan tema perayaan “Berakar dan Berbuah dengan Sukacita” melalui kisah para pionir yang menjadi benih awal lahirnya karya-karya Charitas di Indonesia.

Drama musikal dibuka dengan kisah keberangkatan lima suster misionaris pertama, yakni Moeder Raymunda, Zuster Alacoque, Zuster Cecilia, Zuster Catharina, dan Zuster Wilhelmina, yang meninggalkan tanah kelahirannya demi menjawab panggilan Tuhan untuk berkarya di Indonesia. Tepat pada 9 Juli 1926, mereka tiba di Palembang dan mulai menaburkan benih kasih melalui pelayanan yang sederhana, penuh pengorbanan, namun sarat makna bagi Gereja dan masyarakat.

Drama ini menggambarkan perjalanan Kongregasi FCh dalam menghadapi berbagai tantangan, perubahan zaman, dan dinamika pelayanan. Dalam berbagai keterbatasan, para suster tetap setia menghidupi spiritualitas Charitas dengan menghadirkan pelayanan di bidang pendidikan, kesehatan, pelayanan sosial, dan pastoral. Benih yang ditanam oleh para pionir itu terus bertumbuh, berakar kuat, dan menghasilkan buah yang melimpah melalui karya-karya yang hingga kini terus dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Refleksi Menuju Abad Kedua Pelayanan

Di sela-sela pementasan drama musikal, hadirin diajak memasuki suasana refleksi melalui sambutan tokoh tokoh yang memiliki ikatan erat dengan perjalanan Kongregasi FCh. Suster M. Patricia, FCh, memaknai perayaan seabad FCh bukan sekadar penanda perjalanan waktu, melainkan ziarah kasih, kesetiaan, dan pengorbanan yang diwariskan oleh para pendahulu. Benih kecil yang ditaburkan oleh para misionaris pertama telah bertumbuh dan berbuah melalui doa, pengorbanan, serta kesetiaan yang tetap teguh di tengah berbagai tantangan dalam komunitas maupun karya pelayanan.

Beliau mengajak seluruh keluarga besar FCh untuk bercermin pada sejarah, menjaga nyala api karisma yang telah diwariskan oleh para pendiri dan misionaris, serta menyadari bahwa di balik setiap karya pelayanan selalu ada kasih dan penyelenggaraan Tuhan. Suster Patricia juga menyampaikan terima kasih kepada pemerintah, para mitra karya, dan seluruh suster atas dukungan, dedikasi, dan persembahan diri yang memungkinkan karya pelayanan FCh terus menghadirkan keselamatan dan penyembuhan bagi dunia. Menutup refleksinya, ia mengajak seluruh anggota Kongregasi untuk terus memperbarui diri melalui pertobatan yang mendalam dan setia menghidupi panggilan dalam semangat Charitas.

Refleksi dilanjutkan oleh Pastor Jochem van Velthoven, Ketua Fondasi Charitas Belanda. Ia menyampaikan ucapan selamat atas 100 tahun kehadiran dan karya pelayanan Kongregasi Suster Santo Fransiskus Charitas (FCh) di Indonesia. Ia menegaskan bahwa Fundasi Charitas Belanda dan Kongregasi FCh memiliki sejarah, karisma, dan misi yang sama, yang berakar pada semangat Moeder Theresia Saelmaekers untuk melayani sesama, terutama orang sakit, kaum miskin, dan mereka yang tersisih. Menurutnya, karya-karya pelayanan yang dimiliki Kongregasi harus senantiasa berorientasi pada misi kasih tersebut. Momentum yubileum ini, lanjutnya, menjadi kesempatan untuk memperbarui komitmen dalam menghidupi identitas dan karisma Kongregasi dengan semangat sinodalitas, keterbukaan, dan pelayanan. Ia juga menegaskan komitmen Fondasi Charitas Belanda untuk terus mempererat hubungan persaudaraan serta mendukung karya-karya pelayanan FCh di Indonesia demi mewujudkan misi bersama menghadirkan kasih Kristus bagi mereka yang paling membutuhkan.

Selanjutnya, Mgr. Yohanes Harun Yuwono, Uskup Agung Palembang, mengajak seluruh keluarga besar Kongregasi Suster Santo Fransiskus Charitas (FCh) untuk terus menghidupi semangat Charitas dengan menghadirkan kasih Allah melalui pelayanan kepada sesama. Menurutnya, karya Charitas senantiasa hadir untuk menghibur mereka yang berduka, merawat orang sakit, menyambut kehidupan baru, mendampingi hingga akhir hayat, serta menjadikan sukacita dan penderitaan sesama sebagai sukacita dan penderitaan para suster. Beliau mengenang perjalanan panjang Kongregasi yang sejak awal menghadapi berbagai tantangan, mulai dari masa pendudukan Jepang hingga perjuangan kemerdekaan Indonesia, namun tetap setia melanjutkan karya pelayanan. Semangat itu terus diwujudkan melalui perhatian kepada mereka yang terlantar, pendampingan pasangan suami istri dan keluarga, pendidikan generasi muda, pelayanan kepada para lanjut usia yang sering terlupakan, serta kepedulian terhadap kelestarian lingkungan sebagai wujud tanggung jawab merawat ciptaan. Menutup refleksinya, Mgr. Harun berharap agar “mawar peradaban” yang telah ditanam melalui karya-karya Charitas selama satu abad tetap mekar dan semerbak, menghadirkan kasih Kristus bersama saudara-saudari yang dilayani serta terus melahirkan peradaban yang lebih manusiawi bagi Gereja dan masyarakat.

Gubernur Sumatera Selatan Berikan Apresiasi

Suasana semakin semarak dengan kehadiran Gubernur Sumatera Selatan, H. Herman Deru, S.H., M.M. Dalam kesempatan tersebut, Gubernur menyerahkan penghargaan kepada Kongregasi Suster Santo Fransiskus Charitas (FCh), yang diterima oleh Suster M. Patricia, FCh, serta kepada Rumah Sakit RK Charitas, yang diwakili oleh dr. Antonius Yudianto, MARS, M.H., FISQua, sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi nyata dalam pembangunan sumber daya manusia melalui pelayanan di bidang pendidikan, kesehatan, sosial, dan kemanusiaan.

Dalam sambutannya, Herman Deru memuji komitmen Kongregasi FCh dan Rumah Sakit RK Charitas yang terus meningkatkan mutu pelayanan dari waktu ke waktu. Menurutnya, rumah sakit tersebut senantiasa memberikan pelayanan kesehatan terbaik kepada seluruh lapisan masyarakat tanpa membedakan agama, suku, maupun latar belakang. Ia juga membagikan pengalaman pribadi keluarganya yang pernah merasakan secara langsung pelayanan Rumah Sakit RK Charitas, khususnya RS Charitas Belitang. Pengalaman tersebut, menurutnya, menjadi bukti nyata dedikasi dan profesionalisme karya pelayanan Charitas yang telah memberi manfaat bagi masyarakat Sumatera Selatan.

Simbol Buah Syukur dan Sukacita

pada bagian drama musikal, para perwakilan dari setiap karya pelayanan Kongregasi Suster Santo Fransiskus Charitas bersama para suster muda memasuki panggung sambil membawa keranjang-keranjang buah. Di dalam keranjang tersebut terdapat cokelat berbentuk buah alpukat yang kemudian dibagikan kepada seluruh tamu undangan sebagai simbol buah syukur dan sukacita. Simbol tersebut menggambarkan bahwa benih kasih yang ditanam oleh lima suster pionir satu abad yang lalu kini telah bertumbuh menjadi karya pelayanan yang berakar kuat dan menghasilkan buah yang melimpah. Pembagian buah kepada seluruh tamu undangan menjadi ungkapan syukur sekaligus ajakan untuk terus merawat semangat pelayanan, memperkuat kolaborasi, serta bersama-sama menghadirkan kasih Kristus yang terus berbuah bagi Gereja dan masyarakat.

Perayaan ditutup dengan penampilan tarian theme song “Berakar dan Berbuah dengan Sukacita” yang dibawakan oleh anak-anak Stasi Santo Hilarius, para juara pertama Lomba Dance Theme Song 100 Tahun FCh. Suasana semakin semarak dengan penampilan Keiko Idol dan Keiko Regine, kontestan Indonesian Idol 2026 sekaligus alumni SMA Charitas Jakarta, yang membawakan lagu tema “Berakar dan Berbuah dengan Sukacita”. Penampilan tersebut semakin memukau dengan iringan beatbox yang dibawakan oleh Suster M. Fransela, FCh, menghadirkan kolaborasi yang unik dan penuh sukacita sebagai penutup Malam Syukur Seabad FCh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More Articles & Posts