Menghayati Kaul dalam Terang Spiritualitas Ekologis
“Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian dan beristirahatlah seketika! (Mrk 6: 31) Begitulah Pater Bonifasius Langgur OFMCap, pendamping retret para Novis Charitas mengutip ayat Kitab Suci mengajak kami untuk memasuki retret pada tanggal 1 Juli 2025 dalam perayaan ekaristi pembukaan retret di kapel Postulat Novisiat Santo Bonaventura Km 7.
Tema retret untuk para novis sejalan dengan tema besar Kongregasi Suster Santo Fransiskus Charitas untuk tahun 2025 yakni Tahun JPIC. Tema ini dipilih karena dirasakan relasi antar manusia dan alam semesta semakin rusak parah. Sebagai Suster Charitas sebenarnya sudah mempunyai teladan untuk hidup berdampingan dengan alam ciptaan, yakni bapa kita Santo Fransiskus Assisi yang semangatnya telah berabad-abad lamanya dihayati. Madah Gita Sang Surya yang dirayakan telah berumur 800 tahun memberi gambaran keseluruhan pribadi Fransiskus dalam penghayatan jiwa kosmis. Kesadaran inilah yang masih harus selalu dipupuk dalam cara hidup kami.
Pada hari pertama dan kedua, kami diajak untuk mengenal lebih dalam tentang spiritualitas ekologis itu sendiri dan langkah awal yang harus dilakukan untuk menghidupi spiritualitas ekologis. Dalam menghayati spiritualitas ekologis kita bersentuhan dengan roh, bertemu dengan Allah, dan mengalami kehadiran yang ilahi. Dijelaskan lebih lanjut oleh Pater Boni bahwa spiritualitas ekologis adalah pandangan dunia yang melihat alam semesta sebagai satu kesatuan sistem yang saling terhubung, di mana manusia adalah bagian tak terpisahkan dari jaringan kehidupan tersebut. Hal ini mengintegrasikan kesadaran lingkungan dengan nilai-nilai spiritual dan keagamaan, yang mendorong rasa hormat, tanggung jawab, dan kasih sayang terhadap bumi serta semua makhluk hidup yang ada di dalamnya.
Spiritualitas ekologis berarti juga melihat ciptaan sebagai subjek (pribadi) bukan sebagai objek.
Langkah awal yang harus kita lakukan adalah dengan memiliki rasa takjub, terpesona, kagum, dan jatuh cinta (falling in love) bukan saja pada alam ciptaan itu semata, namun yang utama dan pertama adalah mengagumi terlebih dahulu sang arsitek agung atau pencipta utama.
Maka Pater Bonifasius Langgur atau yang biasa disapa Pater Boni menegaskan dengan logat Batak: “Jadi kalo kalian tengok ada Pastor atau Frater itu ataupun awam yang ganteng, kagumi dulu penciptanya bukan langsung ciptaannya” ungkap Pater Boni sambil tertawa.
Dengan memiliki kemampuan melihat kehadiran Allah dalam setiap ciptaan, kita juga dimampukan untuk menghargai ciptaan yang lain dan terutama alam semesta yang semakin mengalami kerusakan karena kerakusan manusia. “Tapi jangan kalian merasa berdosa karena sudah makan saudara ayam, saudara ikan dan kawan-kawannya ya, karena dibilang dalam Kitab Kejadian 1:27 bahwa manusialah yang menguasai alam ciptaan.” Tegas Pater Boni dengan mantap.

Kata ‘menguasai’ dalam Kitab Kejadian sering disalah artikan oleh kebanyakan orang yang belum mendalami arti yang sesungguhnya. Menguasai bukan berarti merasa berhak untuk sewenang-wenang atau malah memanfaatkan secara berlebihan alam ciptaan untuk tujuan dan kepentingan pribadi. Karena pada dasarnya, Allah tidak menciptakan segala sesuatu untuk dirusak. Allah tidak pernah memerintah manusia untuk merusak, tetapi Allah menghendaki manusia untuk:
- Memberikan perhatian secara penuh terhadap ciptaan yang lain
- Menemukan kembali keseimbangan antar ciptaan
- Mencipta kembali hubungan timbal balik yang saling menguntungkan antar manusia dan alam semesta
- Menghidupi spirituaalitas ciptaan
Pada hari ketiga dan keempat, kami mulai mendalami tentang bagaimana menghidupi kaul dalam persaudaraan Fransiskan. Ketiga kaul berkaitan sangat erat dengan hidup berkomunitas. Pater Boni mengutif ungkapan dari John Donne seorang penyair dan filsuf Inggris No Man Is An Island, artinya tidak ada manusia yang mampu hidup sendiri, layaknya sebuah pulau, yang menggambarkan betapa pentingnya persaudaraan. Maka sejak dini kami para novis ditekankan untuk selalu mengutamakan hidup persaudaraan sebagai seorang pribadi yang terpanggil, agar kami tidak terkejut bila sudah diutus untuk hidup dalam komunitas, maka Pater Boni memaparkan realitas hidup dalam hidup persaudaraan.
Hidup bersama dengan para suster yang menangani karya di dalam komunitas-komunitas memang tidak seindah saat masih berada di rumah Novisiat, tetapi kami harus tetap tekun dan setia hidup dalam persaudaraan dengan keutaamaan-keutaamaan, diantaranya:
- Kristus sebagai pusat hidup persaudaraan
- Persaaudaraan dihidupkan oleh sabda, didukung oleh doa, dan didasarkan pada cinta kasih injili
- Kesamaaan anggota komunitas dalam menghayati semangat kongregasi
- Saling mengerti, jujur dan terbuka
Pada hari yang kelima, kami diajak untuk melihat kisah Fransiskus Assisi dalam menghidupi ketiga kaul. Fransiskus Assisi dalam menghayati kaul ketaatan pada Gereja dan persaudaraan didorong oleh cinta kasih untuk mencari dan melaksanakan kehendak Allah. Dalam kaul kemiskinan betapa sederhananya Santo Fransiskus dari Assisi menghayatinya. Kami sangat tersentuh ketika menyaksikan cuplikan film yang ditayangkan oleh Pater Boni tentang kisah awal Fransiskus jatuh cinta pada Tuan Putri Kemiskinan. Betapa Fransiskus sangat respect terhadap orang miskin, ia tidak hanya memberi sedekah berupa uang atau makanan kepada orang miskin, tetapi juga memberi penghargaan dan cinta yang luar biasa. Sedangkan mengenai kaul kemurnian, kami belajar dari Fransiskus Assisi yang mempunyai hati tulus murni dengan berdedikasi hanya kepada Allah, membebaskan diri dari segala egoisme, dan siap sedia untuk berdoa, berkorban dan memberikan dirinya secara utuh kepada Tuhan.

Kami merasa sangat bersyukur boleh mengikuti retret yang didampingi oleh Pater Bonifasius Langgur OFMCap yang telah menghantar kami untuk mengalami segala kebaikan Allah dan hari-hari yang penuh sukacita dekat dengan Tuhan. Kami juga termotivasi dan antusias sehingga tidak mengantuk terutama saat konferensi pendalaman materi-materi retret. Hal ini didukung oleh semangat Pater Boni dalam memulai konferensi selalu mengajak kami untuk bernyanyi ria dan menari bersama. Selain itu Pater Boni dalam menyampaikan materi juga sangat menarik dan memberi banyak contoh konkrit yang membuat kami tertawa dan menertawakan diri sendiri. Dan dalam retret ini kami juga diberi kesempatan untuk refleksi pribadi, sharing kelompok, dan menonton film yang sesuai dengan materi permenungan kami.
Retret ditutup dengan ibadat tobat dan pengakuan dosa dan diakhiri dengan perayaan ekaristi bersama. Setelah bermenung bersama Yesus di gunung Tabor, kami diminta untuk turun dan kembali menjalani kehidupan di Yerusalem kami (Rumah Novisiat) dengan penuh sukacita dan menjalankan komitmen dan buah-buah yang baik dari permenungan kami.
Usai perayaaan ekaristi, kami mengakhiri masa Sillentium Magnum kami dengan santap malam bersama secara istimewa dengan penuh sukacita bersama para suster pembimbing dan para saudari postulan yang sudah siap menyambut kami dengan wajah gembira di rumah makan refter novisiat.
Penulis: Sr.M.Carla FCh











Tinggalkan Balasan