Sejarah dan Identitas Kongregasi

Nama dan Sejarah Kongregasi Suster Peniten Rekolek Charitas Roosendaal merupakan tarekat religius aktif tingkat keuskupan, didirikan oleh Muder Theresia Saelmaekers di Oosterhout, Breda, Belanda, pada 01 Desember 1834. Kongregasi ini yang kemudian berkedudukan di Steenbergen diakui secara resmi sebagai lembaga berbadan hukum pada 26 Maret 1855, dengan nama Charitas.

Sejak 1 Desember 1991 cabang Kongregasi Suster Peniten Rekolek Charitas Roosendaal di Indonesia menjadi kongregasi mandiri tingkat keuskupan yang ber-kedudukan resmi di Keuskupan Palembang berdasarkan Dekret Kongregasi Suci untuk Tarekat Hidup Bakti dan Serikat Hidup Kerasulan, Prot. N. DD 205 bis-1/90 dengan nama Peniten Rekolek dari Maria Yang Terkandung Tanpa Noda, yang disebut pula Suster Santo Fransiskus Charitas, disingkat FCh.

Lima Misionaris Pertama

Sejak thn 1905, Biara Induk Kongregasi Charitas pindah dari Steenbergen ke Roosendaal. Dari Roosendaal diutus Lima suster Charitas misionaris pertama ke Indonesia, yakni Zr. M. Raymunda, Zr. M. Chatarina, Zr. M. Alacoque, Zr. M. Caecilia dan Zr. M. Wilhemina.

Mereka berangkat dari Biara Charitas Rosendaal pada tanggal 11 Juni 1926 bersama dengan Pastor Hermelink, SCJ dan tiba di pelabuhan Boom Baru, Sungai Musi, Palembang, pada hari Jumat tanggal 9 Juli 1926, setelah menempuh perjalanan laut melintasi samudera kurang lebih empat minggu.

Karya pertama kelima misionaris ini adalah memberi pelayanan untuk orang-orang sakit. Walau masyarakat Palembang pada waktu itu belum memahami dan menyadari makna kesehatan, para suster ini tetap memberi penyuluhan dan menolong ibu-ibu muda dalam hal kehamilan dan persalinan dengan penuh semangat. Suster-suster mengadakan kunjungan ke rumah penduduk atau memberi pelayanan pastoral di paroki.

Setiap hari mereka berkeliling dengan mengayuh sepeda. Mereka melakukan itu semua dalam keadaan yang minim. Mereka harus melewati lorong-lorong yang sempit, menuntun sepedanya dan tidak jarang harus berjalan kaki. Di daerah rawa, mereka harus berjalan melewati jembatan yang kecil dari bambu. Dalam keadaan yang demikian, mereka tetap setia dalam melaksanakan karya pelayanan.

Karya semakin berkembang dan membutuhkan tempat yang lebih memadai. Para Suster membeli sebidang tanah yang terletak di atas bukit untuk dibangun rumah sakit yang baru, di seberang jalan di depan biara pertama. Biara pertama para suster Charitas, kemudian ditempati oleh para freter BHK. Tanggal 18 Januari 1937, peletakan batu pertama untuk bangunan rumah sakit Charitas dilakukan oleh Mgr. M. Mekkelholt SCJ, Vikaris Apostolik, dan diresmikan oleh Dewan Pimpinan Pemerintah Palembang.

Mandiri di Indonesia, 1 Desember 1991

Karya dan anggota Kongregasi Suster Charitas semakin bertumbuh subur dan berkembang. Untuk memperlancar pelayanan dan misi di Indonesia, sejak 1 Desember 1991 cabang Kongregasi Suster Peniten Rekolek Charitas Roosendaal di Indonesia menjadi kongregasi mandiri. Yang dimaksud dengan kemandirian FCh Indonesia adalah, Kongregasi Suster St. Fransiskus Charitas Indonesia, melepaskan diri dari biara induk Charitas di Roosendaal baik secara yuridis maupun operasionalnya. Kongregasi Suster Santo Fransiskus Charitas menjadi biarawati tingkat keuskupan yang berpusat di Palembang dibawah reksa Keuskupan Agung Palembang.

Nama Kongregasi Suster Santo Fransiskus Charitas, yang disingkat FCh, merupakan pengabungan dua nama yakni Santo Fransiskus Assisi dan Charitas. Nama St. Fransiskus ditambahkan pada kongregasi Charitas Indonesia setelah kemandirian, yakni pada tanggal 1 Desember 1991. Kongregasi FCh berlindung pada Maria Yang Terkandung Tanpa Noda.

Profil FCh

Kongregasi Suster Santo Fransiskus Charitas memiliki 39 Komunitas (2025), dan hadir di empat Negara, yakni di Indonesia, Suriname, Belanda, dan Amerika Serikat.

Di Indonesia tersebar di 10 Provinsi yakni di Sumatera Selatan, Sumatera Barat, Batam (Kepulauan Riau), Lampung, Bengkulu, Kepulauan Bangka-Belitung, DKI Jakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, Kalimantan Timur dan Papua.

Ada di 8 Keuskupan di Indonesia, yakni: Keuskupan Agung Palembang, Keuskupan Pangkal Pinang, Keuskupan Tanjung Karang, Keuskupan Padang, Keuskupan Agung Jakarta, Keuskupan Agung Semarang, Keuskupan Timika, dan Keuskupan Agung Samarinda.

3 Keuskupan di luar negeri: di Keuskupan Paramaribo Suriname, Keuskupan Breda – Belanda, dan Keuskupan Jackson, Mississippi – Amerika Serikat.

Karya pelayanan para Suster Kongregasi FCh adalah:

  1. Karya pastoral kesehatan: rumah sakit, klinik, pelayanan dokter mandiri dan pelayanan perawat mandiri.
  2. Karya pastoral pendidikan: play group, TK, SD, SMP, SMA (Jakarta, Batam, Belitang) dan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Katolik Musi Charitas / UKMC (Palembang) – bekerja sama dengan Kongregasi SCJ dan Keuskupan Agung Palembang (konsorsium).
  3. Karya pastoral sosial: panti jompo, kursus babby sitter, membantu di panti asuhan Pasang Surut (milik Keuskupan Agung Palembang)
  4. Karya pastoral kategorial: CU Bina Danarta, kantin, asrama putra-putri, penitipan anak, dan rumah retret Giri Nugraha-Palembang (bekerja sama dengan Kongegasi SCJ), selter dan ecopark.
  5. Karya pastoral parokial, a.l: KKI, KomKel, dan terlibat aktif dalam kegiatan parokial (BIA. remaka, katekumen, komuni pertama, krisma, dan komunitas devosional) serta pastoral kehadiran.