Launching Menuju 100 Tahun Charitas di Indonesia

Kongregasi Suster Santo Fransiskus Charitas (FCh), secara resmi telah melangsungkan launching menuju 100 tahun Suster Charitas di Indonesia, Rabu (9/7/2025). Acara dilaksanakan di Gereja Paroki Santo Yoseph Palembang berlangsung dari  pukul 17.00 WIB s/d 21.00 WIB. Acara  diawali dengan perayaan ekaristi untuk bersyukur atas penyertaan Tuhan selama 99 tahun perjalanan pelayanan FCh di Indonesia dan kemudian dilanjutkan dengan launching ceremony menuju 100 tahun FCh di halaman samping gereja.

Sebelum perayaan ekaristi 39 vandel biara FCh diarak masuk ke dalam gereja dan ditata rapi di sisi kanan dan kiri panti umat. 39 biara tersebut merupakan biara yang tersebar di 11 keuskupan dan 3 benua yakni Asia, Eropa, dan Amerika. 24 komunitas tersebar di Keuskupan Agung Palembang: Biara Induk Charitas Santa Maria Immaculata, Biara Charitas Santo Fransiskus, Biara Charitas Santa Anna, Biara Charitas Theresia Saelmaekers, Biara Charitas San Damiano, Biara Charitas Santa Monika, Biara Charitas Santo Antonius Padua, Biara Charitas Assisi, Biara Charitas Santo Nicolaus, Rumah Postulat Charitas Santo Bonaventura, Noviciat Charitas santo Bonaventura, Biara Charitas La Verna, Biara Charitas Angela de Foligno, Biara Charitas Rivotorto, Biara Charitas santa Agnes Praha, Biara Charitas, santa Clara, Biara Charitas Santa Elisabeth Hongaria, Biara Charitas Bernardus, Biara Charitas Riccieri, Biara Charitas Donna Pica, Biara Charitas Porziuncola,Biara Charitas Rufino, Biara Charitas Angelo Tancredi, dan Biara Charitas Thomas Celano.

2 biara di  Keuskupan Pangkalpinang: Biara Charitas Santo Benedictus dan Biara Charitas Celle de Cortona. 1 biara di Keuskupan Tanjung Karang yaitu biara Santa Maria Ratu Damai. 2 biara di Keuskupan Agung Jakarta: Biara Charitas Siena dan Biara Charitas Lembah Spoleto. 2 biara di Keuskupan Agung Semarang yaitu Biara Charitas Serafim dan Biara Charitas Santa  Maria degli Angeli. 1 biara di Keuskupan Agung Samarinda yaitu Biara Charitas Santo Yosef Cupertino. 3 Biara di Keuskupan Timika yaitu: Biara Charitas Greccio, Biara Charitas Bintang Timur, dan Biara Charitas Maseo. 1 biara di Keuskupan Padang yaitu Biara PRCA Santa Maria Mater Dei. 1 biara di Keuskupan Paramaribo Suriname yaitu biara Charitas Fatima. 1 biara di Keuskupan Roosendaal Belanda yaitu Biara Charitas Theresia Saelmaekers.

Sementara vandel diarak Sr. M. Carolisa FCh sebagai MC, menyampaikan narasi singkat yang memuat sejarah kedatangan kelima misionaris pertama Suster Charitas di Indonesia dan refleksi mendalam perjalanan FCh di masa silam dan masa yang akan datang. Dalam narasi tersebut dikisahkan bahwa perjalanan FCh di Indonesia berawal dari kisah pada tahun 1915. Saat itu beberapa instansi swasta Belanda mulai bekerja sama mendirikan sebuah rumah sakit kecil di Palembang yang dikhususkan bagi pasien orang Eropa. Karena biaya operasional yang besar, maka tahun 1926 rumah sakit ini mendekati bangkrut. Pastor Henricus Van Oort SCJ tergerak hati oleh Belas Kasih Yesus dan mengambil tindakan untuk membeli rumah sakit ini demi mewujudkan kasih nyata bagi orang sakit. Maka Pastor Van Oort SCJ menjumpai Mgr. Henricus Smeets SCJ, Prefek Apostolik Bengkulu waktu itu. Keprihatinan Pastor Van Oort SCJ di tanggapi dengan serius oleh Mgr. Smeets SCJ dengan memutuskan untuk meminta bantuan pada Mgr. Petrus Hopmans, uskup keuskupan Breda, di Belanda. 1 biara baru yang akan diresmikan di Missisipi, Amerika Serikat.

Mgr. Petrus Hopmans menyarankan agar Mgr. Smeets menemui Muder Vincentia, pemimpin umum Kongregasi Charitas di Roosendal waktu itu. Melalui perjumpaan ini, membuahkan Keputusan untuk mengutus lima suster charitas sebagai misionaris pertama untuk bermisi dan berkarya di rumah sakit Palembang. Jumat, 11 juni 1926, bertepatan dengan Hari Raya Hati Kudus Yesus, Kelima suster misionaris pertama,  Zr. Raymunda Hermans, Zr. Catharina Koning, Zr. Alacoque Van Der Linden, Zr. Ceacilia Luyten dan Zr. Wilhemina Blesgraf Bersama Pastor Albertus Hermelink SCJ, berangkat meninggalkan tanah airnya untuk karya agung Tuhan di tanah misi di Palembang.

Mereka berangkat dengan menumpang kereta api dari Roosendal (Belanda) menuju Marseille (Prancis Selatan). Perjalanan ditempuh dalam waktu 2 hari. Kemudian melanjutkan perjalanan ke Sumatera dengan menumpang kapal SS. Insulinde menuju Singapura. Namun sesampainya di Singapura, mereka harus menunggu 5 hari untuk mendapat kapal menuju Palembang.

Lebih kurang empat minggu, mereka berada di tengah samudera dan   Kamis, 8 juli 1926, kapal Insulinde sampai di pelabuhan Bom baru, Palembang. Karena hari sudah gelap, maka kapal tidak boleh merapat ke dermaga. Semalaman kapal terapung di Sungai Musi maka Jumat, 9 juli 1926, pukul 05.00 WIB, Pastor Hermelink SCJ dan kelima Suster Charitas merayakan ekaristi yang terakhir di kapal sambil menunggu kapal diijinkan untuk merapat. Pukul 08.00 WIB, kapal berlabuh di Pelabuhan Bom Baru Palembang dan semua penumpang diijinkan turun. Para pewarta kasih ini dijemput oleh pastor Henricus Van Oort SCJ dan pastor Neilen SCJ.

Setelah prosesi perarakan vandel selesai, para Suster Charitas menyanyikan lagu Mars Charitas lalu kemudian lagu pembuka oleh segenap umat untuk menyambut perarakan petugas liturgi. Perayaan ekaristi dipimpin oleh Mgr. Yohanes Harun Yuwono, uskup Keuskupan Agung Palembang dan didampingi oleh konselebran Mgr. Vinsensius Setiawan Triaatmojo, Uskup Keuskupan Tanjung Karang, RD Hyginus  Gono Pratowo, Pastor Paroki Santo Yosep Palembang sekaligus Pastor Dekan Dekanat palembang, dan RP Heru Ismadi SCJ, Dewan Provinsial SCJ Indonesia. Hadir juga Mgr.Emeritus Aloysius Sudarso SCJ bersama kurang lebih 45 imam lainnya.

Perayaan ekaristi “Syukur menyongsong seabad Suster Charitas di Indonesia” berlangsung dengan baik dan penuh hikmat. Selain itu, ada yang menarik dalam perayaan ekaristi kali ini, yang tentunya menambah warna dalam perayaan ekaristi, yakni penari cilik dan pembawa persembahan yang menghantar persembahan ke depan altar. Mereka adalah pasangan suami istri dokter yang melayani di karya kesehatan Charitas Group, yang mengenakan busana khas daerah masing-masing. Sedangkan, 3 orang penari cilik adalah anak-anak dari TK Charitas Tegalsari BK-21, Belitang. Anak-anak yang mungil dan lincah ini berhasil menarik perhatian umat yang berada di dalam Gereja.  Menurut penuturan Sr. M. Gervasia FCh yang ikut mendampingi mereka “Adek-adek ini hebat, hanya 2 minggu latihan, mereka sudah bisa menguasai gerakan dengan cepat”. Kelenturan dan kelincahan penari cilik ini menambah semarak perayaan ekaristi.

Sebelum berkat penutup, ada upacara pemberkatan Bibit Pohon Alpukat oleh Mgr. Yohanes Harun Yuwono. Pohon alpukat dipilih sebagai simbol pohon yang berbuah, dan buahnya berguna bagi kesehatan. Pohon ini dapat di tanam di dataran rendah maupun dataran tinggi dan memiliki durasi waktu produksi yang panjang. Setelah bibit pohon diberkati, Pemimpin Umum Suster St. Fransiskus Charitas, Sr. M. Patricia FCh menyerahkan bibit pohon kepada keempat suster yang dipilih sebagai perwakilan yakni: Sr. M. Yocellyn FCh, mewakili komunitas Santo Fransiskus sebagai komunitas pertama Suster Charitas di Palembang, Sr. M. Stella FCh, mewakili rumah genderalat FCh, Sr. M. Leonora FCh, mewakili komunitas misi terbaru yakni komunitas Charitas  di Misisipi Amerika Serikat dan Saudari Maria mewakili saudari muda Charitas.

Setelah perayaan ekaristi, semua umat yang hadir diundang dalam acara ramah tamah dan seremoni di halaman Gereja Santo Yoseph Palembang. Sembari mengarahkan umat pindah ke lokasi launching ceremony Sr. M. Nicoline FCh, melakukan siaran untuk mengisi para tamu undangan yang mengikuti melalui live streaming di Youtube Suster Charitas. Sr. M. Nicoline melakukan wawancara dengan 2 narasumber yaitu Rm. Agustinus Riyanto, SCJ, yang terlibat sebagai Humas dalam kepanitiaan Menuju 100 Tahun FCh di Indonesia dan Sr. M. Paula FCh yang merupakan Ketua Liturgi dalam kepanitiaan ini. Setelah semua siap di panggung tamu undangan online kemudian disuguhi acara launching ceremony yang dipandu oleh 2 MC yaitu Sr. M. Christa FCh dan Saudara Yosafat Bromo.

Rangkaian acara seremoni diawali dengan perarakan suster pembawa vandel Kongregasi Suster Santo Fransiskus Charitas, Bendera Merah Putih dan Bendera Vatikan. Vandel Kongregasi diarak sebagai lambang persaudaraan yang dilandasi jiwa Charitas. Bendera Merah Putih, merupakan simbol kecintaan Charitas sebagai anak bangsa terhadap tanah air Indonesia. Selanjutnya Bendera Vatikan, sebagai pernyataan bahwa Charitas adalah bagian gereja universal yang mempunyai panggilan kerasulan di tengah masyarakat. Perarakan kemudian diikuti oleh keempat suster yang membawa bibit pohon alpukat lalu kemudian diikuti oleh Suster Pemimpin Umum dan Dewan Kongregasi FCh. Perarakan ini disambut dan diiringi dengan tarian yang berasal dari Belanda yaitu Tari Clog, prosesi ini mengandung makna tentang jejak langkah Charitas 99 tahun yang lalu ketika menginjakkan kaki di tanah air Indonesia.

Sebelum acara puncak, Sr. M. Albertin FCh selaku Ketua Panitia 100  Tahun Charitas menyampaikan sambutan kepada semua hadirin yang hadir. Tak ketinggalan Sr. M. Patricia FCh selaku pemimpin umum Kongregasi Suster Santo Fransiskus Charitas juga menyampaikan sambutannya. Dua pantun yang sarat makna, doa, dan harapan disampaikan oleh Bapak Uskup Mgr. Yohanes Harun Yuwono tiga menit sebelum launching ceremony dilakukan. Pukul 19.19 WIB, terdengar dentuman gong, yang ditabuh oleh Sr. M. Albertin FCh dan Sr. M. Immaculata FCh sesaat setelah seruan hitung mundur dari semua yang hadir. Suara riuh tepuk tangan hadirin juga mengiringi dalam waktu yang sama, Sr. M. Patricia FCh dan Mgr. Yohanes Harun Yuwono membuka kain selubung logo 100 tahun  Suster Charitas di Indonesia. Sangat megah dan dan meriah ketika theme song 100 Suster Charitas yang berjudul “Berakar dan Berbuah dengan Sukacita” dinyanyikan oleh semua hadirin dan diikuti tarian koreografi oleh semua Suster Charitas. Disaksikan secara langsung oleh ratusan tamu undangan dan puluhan penonton melalui live streaming Kongregasi FCh dengan resmi telah melakukan launching menuju 100 tahun FCh.

Sr. M. Albertin FCh selaku ketua panitia juga memberi penjelasan mengenai makna logo yang baru saja dilaunching: terdapat 5 komponen simbol dengan makna sebagai berikut:

Selain itu Sr. M. Albertin FCh juga menjelaskan rangkaian acara yang akan dilaksanakan dalam rentang satu tahun ke depan. Terdapat 6 kategori acara diantaranya: Seminar & Workshop, Safari Koor, Bedah Buku, Aksi Kemanusiaan (Donor darah, Baksos, Pengabdian Masyarakat, Edukasi dan Penyuluhan kesehatan), Aksi Ekologi (Tanam pohon, Sweeping Sampah, Jalan Santai), dan Kompetisi (Lomba Dance Theme song dan Aksi Testimoni Digital).

 Acara seremoni berjalan dengan sukacita. Para hadirin baik Bapak Uskup, Para Romo, Suster, Bruder, Frater, Manajemen dan Staf karya-karya FCh, serta segenap umat dan tamu undangan yang lain tampak sangat menikmati acara yang menampilkan kesederhanaan namun megah dan meriah. Penampilan yang disuguhkan mulai dari anak-anak Tk Charitas Tegalsari yang membawakan tarian Selendet Pong dengan menggunakan pakaian lengkap adat bali mampu menghibur semua yang hadir. Tidak kalah menarik penampilan Suster Novis Tahun Pertama menyuguhkan tarian Laskar Tani Suster Novis Tahun Kedua yang membawakan sebuah tari balet yang berjudul Above All yang menceritakan kebesaran Allah yang tak terbatas. Acara ditutup dengan penampilan terakhir para Saudari Postulan yang membawakan tarian manggarai Tari Dodo Weri Latung. Tari ini menggambarkan kekompakan dalam mendukung tradisi “dodo” yaitu keluarga yang mau dan rela saling membantu sesamanya.

 

Penulis: Suster Maria Alexiana FCh

Editor: Suster Maria Valensia FCh

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More Articles & Posts